0

Saya, Seorang Wanita Bali

Selamat Hari Kartini untuk seluruh wanita Indonesia. Seluruh wanita yang merasa menjadi orang Indonesia dan cinta Indonesia. Hari ini tepat tanggal 21 April, ulang tahun Bagas, yeayyyy,, hahaha ngga nyambung tidak apa-apa, setidaknya karena Hari Kartini inilah saya tidak akan pernah lupa ulang tahun adik bungsu saya yang ganteng.

Beberapa bulan ini gatel banget pengen nulis tentang perempuan Bali. Kenapa? Karena saya merasa ada yang unik dengan perempuan Bali. Bukan semata-mata karena saya termasuk di dalamnya. Tetapi berdasarkan pengamatan saya, ada sesuatu yang berbeda dengan perempuan Bali.

Pas tadi pagi lewat di meja satpam kantor, keliatan ada sebuah koran Bali Post dengan headline yang mencolok mata, liat deh gambar ini

perempuan bali

Tuh kan bener kan apa kata saya, jadi kurang lebih menurut berita di koran tersebut, tingkat pengangguran perempuan di Bali paling rendah dibandingkan daerah lainnya di Indonesia, dan tingkat penggangguran perempuan di Bali juga lebih rendah daripada laki-laki di Bali. Berita ini disertai dengan data-data valid dan bersumber dari Badan Pusat Statistik lohhh. Pertanyaannya Kenapa? Apakah wanita Bali dituntut untuk bekerja dan berpenghasilan?

Ini jawaban saya. Isi tulisan ini murni opini saya pribadi, jika ada yang mau menambahkan saya persilakan, jika ada yang kurang setuju, tulis saja di komentar semua bebas berpendapat selama masih sopan dan tidak menyinggung SARA.

Mengapa perempuan Bali itu hebat?

Karena banyak hal, pertama perempuan Bali itu multi tasking, sebagian besar perempuan adalah kaum yang multi tasking, bisa melakukan banyak pekerjaan di saat bersamaan, mungkin itu sudah menjadi kelebihan tersendiri bagi perempuan. Dalam hal ini, yang saya sebut dengan istilah multi tasking adalah perempuan Bali yang bisa berperan dalam keluarga ( sebagai ibu, istri atau bahkan nenek), berperan dalam pekerjaan ( baik yang menjadi pekerja kantoran, wira usaha, ataupun pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah tetapi masih menunjang ekonomi keluarga) dan satu lagi yang tidak dimiliki oleh perempuan-perempuan lainnya di Indonesia, perempuan Bali berperan penting dalam urusan agama dan adat, sebagian besar urusan agama dan adat Hindu Bali dilakoni oleh kaum perempuan, jika ada persiapan suatu upacara, silahkan dibandingkan porsi waktu dan tenaga antara perempuan dan laki-laki. Ibu-ibu atau kaum perempuan warga banjar “ngayah” hampir setiap hari untuk menyambut suatu upacara di pura, sedangkan kaum laki-laki hanya datang saat-saat tertentu saja, setidaknya begitulah yang saya lihat sehari-hari di desa tempat tinggal saya.

Kedua, jadi perempuan Bali harus pintar menyesuaikan diri dengan lingkungan minimal lingkungan rumah, karena saat seorang perempuan Bali menikah dan tinggal di rumah suaminya, tidak jarang mereka harus tinggal di rumah mertua, dan sampai dengan saat ini masih banyak rumah di Bali yang dihuni oleh lebih dari satu kepala keluarga dalam satu halaman rumah. Jadi dalam satu halaman, ada beberapa rumah yang dihuni oleh beberapa kepala keluarga, di sana ada mertua, ada ipar, ada sepupu suami, ada kakek nenek suami, ada paman bibi suami dan  famili lain, semakin banyak anggota keluarga, semakin rame lah rumah itu. Dalam situasi begini, seorang istri yang notabene adalah “orang baru”, harus menyesuaikan diri dengan kondisi di keluarga tersebut. Sangat banyak terjadi, saat masuk ke rumah suami, ada ketidakcocokan dengan kondisi di rumah tersebut, yang membuat mereka tidak nyaman tinggal di dalam rumah, atau bahkan mencari jalan untuk segera keluar, baik dengan jalan mencari tempat kos, kontrakan atau tinggal di rumah sendiri bagi yang punya tanah sendiri. Kalau sudah begini, no comment deh, semua kembali ke rumah tangga masing-masing saya tidak berhak menilai, saya hanya menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi dengan perempuan Bali.

Ketiga, perempuan Bali perempuan yang super sibuk, kembali ke poin 1, karena begitu banyak peran yang harus dilakukan, sehingga setiap harinya, kegiatan seorang Ibu khususnya dimulai dari mengurus keluarga ( suami dan anak-anak), dilanjutkan dengan pergi bekerja (jika tidak bekerja di rumah), pulang kerja dilanjutkan dengan mengerjakan pekerjaan adat dan agama ( setidaknya membuat “banten” persembahan untuk sehari-hari), ini belum termasuk saat ada upacara tertentu di Banjar atau di rumah, harus menyempatkan diri untuk bersosialisasi dalam hal adat dan agama di waktu liburnya yang seharusnya bisa dialokasikan untuk “Me Time”.

Keempat, perempuan Bali ingin selalu memiliki penghasilan untuk membantu ekonomi keluarga, kenapa saya berpendapat seperti ini? Karena saat waktu senggang, perempuan Bali juga tidak bisa diam, ada saja yang dikerjakan, syukur-syukur kalau hasil “kerajinan tangannya” (biasanya berupa sarana upacara) bisa dijual untuk membantu ekonomi keluarga, tetapi kalaupun tidak, setidaknya barang-barang yang mereka hasilkan tersebut pasti bermanfaat sehingga tidak usah membeli saat dibutuhkan, jadi lebih hemat kan???

Mungkin segitu saja cukup dulu yah, kalau ada yang kurang bisa ditambahkan sendiri, terlalu banyak yang harus saya ceritakan. Ohhh iya ini sudut pandang saya tentang sebagian besar wanita Bali, tetapi tidak jarang kok sekarang ini wanita Bali yang sudah jadi perempuan jaman now, yang aktif di medsos dengan foto-foto “ngayah”nya, atau sekedar nongkrong cantik di St*rbuck sambil selfie lalu diupload di medsos, menjadi model karena maraknya dunia per-Instagram-an, atau menjadi pembicara di forum-forum penting,,,, tetapi tidak lupa satu pesan saya kalau ke Pura tetap nyuun keben yah jangan malu.

KARENAAAAA

Kita bisa, kita perempuan HEBAT !!!!

Salam dari Mamak Kembar 🙂

Iklan
0

Wajar kalau berantakan

Yuk ngetik blog lagihhhh. Udah jalan bahasan yang ketiga di #modyarhood nya Mamamo dan Byputy , baru bisa ikutan sekarang, gpp kali yah, yang penting kan bisa berpartisipasi dan bisa curhat juga. Kali ini bahasannya tentang pembagian tugas domestik, seru nih, pengen banget cerita, tanpa bermaksud membanding-bandingkan, kondisi keluarga saya sedikit “berbeda” dengan yang lain. Saat ini suami saya tidak bekerja, jadi suami saya full di rumah menjadi Stay At Home Dad (keputusan ini sudah kami sepakati bersama setelah tau kalau saya hamil), sementara saya bekerja kantoran, ya walaupun kerjanya sistem shift bukan 9 to 5. Di rumah kami hanya tinggal berempat (papa, mama, Rama dan Krishna ) tanpa orang tua, mertua, ataupun ART.

Saya

  • Kalau lagi kerja. tugas saya adalah menyiapkan makan untuk suami dan anak-anak, untuk suami biasa hanya saya sediakan lauk untuk sarapan, yang simpel tapi dia suka adalah telor dan olahannya. Untuk anak-anak sekitaran ayam dan telor juga sih, hehehe. Untuk makan siang dst dia masak sendiri sebisanya.
  • Kalau lagi libur. Saya mengerjakan hampir semua pekerjaan domestik, seperti masak, cuci piring, cuci dan jemur pakaian, bersih-bersih dll. Jadi kaya semacam dirapel gitu loh, di sini kadang saya merasa lelah. Harusnya libur bisa agak nyantai, ini masih harus ngerjain urusan domestik plus diserahin anak-anak plusnya lagi ngurus bayi besar yang udah kangen karena ditinggal kerja seharian. Tapi kadang suami juga bantu semisal nyapu halaman, mandiin anak-anak dll seikhlasnya dia, karena anggapannya dia, kalau saya libur, jadi dia libur juga dari tugas ngasuh anak-anak. Dan, suami saya cenederung lebih suka saya tidur-tiduran santai aja gitu di kamar, daripada saya sibuk di dapur atau nyapu-nyapu, efek kangen juga kali ya karena udah ditinggal kerja seharian, hihihi. Cuma masalahnya ada di saya, yang ga tahan liat kotor, raga di kasur, pikiran di dapur dan mesin cuci, begitulah yang sering terjadi.

Suami

  • Kalau saya kerja, tugas suami adalah jagain anak-anak FULL TIME, dua anak laki-laki yang lucu-lucu dan sangat aktif dijagain seorang bapak, ya begitulah. silahkan bayangkan sendiri, selama saya bekerja suami tidak wajib mengerjakan tugas rumah tangga, tugasnya hanya menjaga anak-anak.
  • Kalau saya lagi libur, suami saya juga libur menjaga anak-anak, tapi ngga libur-libur banget sih, kalau saya perlu bantuan ya saya pasti ngomong, misalnya mau ninggalin masak, mau ninggalin jemur, suami lah yang mengambil alih tugas jaga anak sementara waktu. Kalau misalnya dia pengen sekedar ngobrol-ngobrol sama bapak-bapak tetangga ya silahkan. Saya bebas selama ga lupa waktu aja.

Jangan tanya kondisi rumah seperti apa, seperti pasar kaget pas musim lebaran. Berantakan, apalagi kalau kondisinya anak-anak lagi sakit, kerjaan rumah otomatis saya abaikan untuk jagain anak-anak, sementara cucian menumpuk karena beberapa kali anak-anak m*ntah, cucian bekas e*k, kena obat dll. Tiap saya mengeluh ke suami karena kondisi rumah yang ga pernah bersih dan rapi, suami selalu bilang : ” Ga apa-apa kan kita punya anak-anak kecil, wajar kalau berantakan” dan selalu saya jawab dengan omelan karena ke”perfeksionis”an saya tentang kebersihan, hyahahahaha. . . .

Ini cerita rumah kecil kami, bagaimana di sana??? Yuk ikutan cerita di blog masing-masing.

0

Berburu Kusamba Sea Salt

Ada yang sudah pernah liat bagaimana proses pembuatan garam laut belum?? Kemarin di hari Selasa yang mendung, kami sekeluarga pergi ke Desa Kusamba, Klungkung untuk membeli garam langsung dari petani garam. Udah pada tau belum tentang garam laut? Semua orang pernah makan garam deh kayanya yah, tapi ga semua orang tau tentang apa itu garam laut, apa bedanya dengan garam kemasan yang sering kita konsumsi. Kalau belum tau googling yah, saya ngga bahas di sini.

Saya lagi memulai bisnis kecil-kecilan menjual produk-produk yang khas Bali. Niat awalnya supaya bisa membantu para pengrajin, petani ataupun pekerja di sekitar saya agar produknya dikenal luas. Selain itu ngga lupa donk tujuan profitnya, hahaha. Nah,, garam laut Kusamba ini salah satunya. Produksi garam laut di Kusamaba bukan merupakan kegiatan yang baru, tradisi ini sudah berjalan ratusan tahun. Malah katanya petani garam tradisional sudah semakin menyusut karena harga garam yang tidak sebanding dengan jerih payah proses yang harus dilakukan (ini apa ya bahasanya, ya gitu lah capeknya ga sebanding dengan harga jual garam).

Nah kebetulan dalam usaha mengembangkan bisnis ( nahhh mulai berat bahasanya ) mamak kembar mulai menjajaki menjual garam Kusamba ini. Ga lengkap rasanya jual garam Kusamba kalau tidak langsung ambil dari petani garam di Pantai Kusamba. Supaya terjamin keasliannya. Dimulai lah perjalanan membeli garam ke Kusamba bersama-sama ( Papah Kembar dan Si kembar juga ).

Tujuan pertama di kawasan pantai yang letaknya di belakang Pasar Kusamba, setelah saya tanya-tanya, ternyata tempat pembuatan garamnya agak jauh dari parkiran mobil. Tapi saya coba juga buat pergi ke sana bersama anak-anak. Capekkkk, asli beneran, karena anak-anak maunya jalan ke arah ombak aja, sementara letak rumah petani garamnya jauh, sekitar 500 meter dari parkiran, menyusuri garis pantai. Eh sampai sana, udah sepi, ga ada siapa siapa di tempat pembuatan garam. Mungkin petani garamnya sudah pulang ke rumahnya di desa. Balik lah kami ke mobil tanpa membawa hasil.  Mau pulang kok kayanya udah pergi jauh-jauh ga bawa apa-apa. Kahirnya nanya sana sini. dan ketemu lah dengan seorang ibu yang dengan senang hati mengantarkan kami ke petani garam yang tidak lain adalah bibinya Ibu ini. Ibu ini baik banget namanya Ibu Putri( Thanks To Ibu Putri ). Akhirnya dapat garam Kusamba ASLI langsung dari petani. Sempet cekrek cekrek juga di sana, lumayan buat dokumentasi. Ini beberapa fotonya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

0

Need help please…..

Mamak kembar butuh saran, buth bantuan nih. Bagaimana cara melepaskan kebiasaan tidur dengan ayunan? Gimana sih caranya ngajarin anak untuk tidur dengan sendirinya, tanpa diayun, tanpa dinenen? Sampai sekarang saya masih bingung, belum ketemu jawabannya. Sampai dengan usia saat ini yang hampir 18 bulan ( satu setengah tahun lohhh ) Rama dan Krishna bisa tidur hanya dengan 2 cara :

  1. Bobo nen ( artinya : bobo sama mama dan minta nenen ). Bobo dengan cara ini adalah cara ternyaman bagi mereka. Seringnya dilakukan dengan cara tandem diketekin kanan kiri sama mamaknya ( Uwoooo tutup muka ). Bobo dengan cara ini bisa bertahan lama selama mamanya masih ada di tempat tidur, kalau mamanya ngga ada, bisa maksimal 1 jam lah ( tidur siang) kalau tidur malam bisa lebih lama. Kalau tidur malam biasanya mereka mulai tidur sekitar jam 11 malam, bangun minta nen lagi sekitar jam 1/2 pagi, dan pagi sekitar jam 4/5 minta nen lagi. Abis minta nen balik badan dan bobo lagi. Nah, kalau lagi jadwalnya kerja, saya biasa bangun jam 5 / 6 ( tergantung sikon ), kalau saya sudah ga ada di tempat tidur mereka biasa bertahan maksimal 1 jam tanpa saya. Nah kalau udah ngek tapi mamanya udah bangun gimana? Ada 2 jawaban, mamanya balik lagi buat nenenin atau masuk ayunan. Ayunan??? Ya AYUNAN
  2. Bobo Ayun. Si kembar udah kenal ayunan sejak umur 3 bulan. Kebiasan turun temurun orang Bali, jika sudah berumur 3 bulan bali ( 105 hari) maka akan dibuatkan upacara3 bulanan dan salah satunya adalah mengenalkan ayunan pada anak. Nah, waktu umur 3 bulan itu ceritanya si kembar udah punya ayunan dan tiangnya ( di bawah saya kasi tunjuk deh bentuknya kaya apa). Ayunan dapat hadiah dari Pak Sugiarto dan istri ( tetangga sebelah rumah ), sekaligus dikasi 2 biji. Dan tiangnya bikin dari besi di tukang las. Dari usia 3 bulan itulah mereka doyan banget bobo ayun, dari yang cuma diem aja di ayunan, terus udah mulai bisa minta turun dengan cara nangis, dan sekarang sudah bisa turun sendiri tanpa dibantu. Jadi saya sudah ngga heran kalau mereka tidur di ayunan dan tiba-tiba udah keluar kamar, ya karena turun dengan sendirinya tanpa dibantu.
ayun

Ini dua kepompong upsss ini dua ayunan si kembar

Pertanyaan besar saya hingga saat ini, bagaimana membiasakan mereka untuk tidak tidur dengan ayunan? Karena hingga saat ini, kalau saya sedang tidak ada, mereka HARUS pakai ayunan kalau mau bobo. Saya nanya sana-sini, jawabannya cuma satu sih, konsisten kalau mau ngebiasain. Tapi masih sangat susah buat dilakukan, karena kalau saya tinggal kerja, kadang yang ngasuh anak-anak cuma papanya seorang diri. Kan dilema, gimana coba caranya kalau dua-duanya minta bobo tanpa dibantu ayunan? Any advice?

0

Si Kembar Kena Flu Singapura

Si kembar habis sakit, mamak sedih. Mau cerita tentang sakitnya si kembar. Siapa tau ada yang ngalamin juga. Senang bisa berbagi pengalaman dan semoga bermanfaat.

Sejak tanggal 27 Agustus 2017 dini hari badan Krishna mulai panas, sekitar jam 6 pagi mulai saya beri parasetamol. Mungkin dia mau numbuh gigi kata saya ke suami, karena di gusinya keliatan merah dan bengkak. Pagi harinya dia mulai agak rewel, mau maem, mau maen tapi cepet capek keliatannya. Sore hari panas lagi, suhu badannya sampai 39,3 C. Malam sekitar jam 8 mulai keluar bintik2 merah di telapak kaki. Suami saya curiga Krishna kena Flu Singapura. Saya bilang, ke dokter saja dulu, daripada ngira-ngira. Akhirnya nelpon Klinik Vidyan dan ada dokter anak tapi bukan dokter Romy, yang jaga dokter pengganti. ya sudah gpp, yang penting dapat penanganan dulu pikir saya. Malam itu juga Krishna diperiksa dan Rama juga ikut ke dokter tapi dia baik-baik saja, ga ada tanda-tanda ketularan.

Menurut dokter ( namanya dokter Dwi ), Krishna tertular virus, tapi dia ngga bisa bilang ini Flu Singapura karena biasanya Flu Singapura baru ketahuan hari ke 2 atau ke 3. Kami pulang dengan membawa obat puyer, antivirus ( saya lupa merknya ),  dan salep buat dioles ke sariawannya. Malam harinya Krishna ga nyaman tidurnya, kasian juga, mau nenen juga agak susah, mungkin sakit karena sariawan di lidahnya itu. Besoknya, tanggal 28 Agustus 2017 saya harus pergi kerja, itupun saya terlambat lebih dari 1 jam karena Krishna bener-bener rewel dan harus ngajak Rama ke rumah orang tua saya ( niatnya supaya ngga ketularan ).

Sebelum nitip Rama, badannya sudah mulai panas, saya kasi parasetamol saja, sebenarnya udah ada feeling dia tertular, tapi tetap antisipasi saya titip dulu. Saya berangkat kerja seperti biasa ngerjain tugas kantor sampai beres, dan jam 12 an suami nelpon, bilang kalau Krishna ngga mau makan, ngga mau minum, dan nangis terus. Di telpon saya denger Krishna nangis. Ya ampun, di saat seperti itu ibu mana yang ngga bingung. Saya bilang ke suami, buat ngajak Krishna ke dokter kalau memungkinkan. Tapi suami saya nyuruh saya pulang saja, karena dia juga bingung kalau sendirian. Akhirnya saya pulang dan ijin ke atasan.

Sampai rumah, Krishna udah keliatan tenang lagi nonton video dan saya liat air liurnya menetes sampai dipakein bib ( lap iler ) yang juga jadi basah. Kasian sekali liatnya, saya coba kasi nenen, dia mau, suami saya aga lega. Kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke dokter. Di kulitnya mulai muncul bintik-bintik merah.

flu-singapura

Kurang lebih penampakannya mirip ini. ( Sumber : https://mediskus.com/penyakit/flu-singapura

Setelah diperiksa dokter Romy, dokter mengatakan Krishna terkena Flu Singapura. Sayang langsung nanya, gimana caranya supaya Rama tidak tertular, menurut dokter sebisa mungkin kurangi kontak keduanya ( bingung kan gmana caranya? wong nenennya aja barengan). Dokter cuma nambahin obat Imunped ( vit C dan Zinc ) dan salep untuk bintik-bintiknya ( saya lupa merknya ).  Obat lain diteruskan saja kata dokter. Nah,,, ternyata bener feeling bapak kembar.

Sepulang dari dokter kami langsung jemput Rama ( saya udah ngga mikir urusan kantor lagi, maafkan saya Indonesia ). Pas masuk rumah, saya liat Rama lagi digendong kakeknya, dia mulai nangis pas liat saya dan beneran donk, air liurnya keliatan menetes juga, badannya panas ( Hati mamak tambah sedih anak-anak ku sayang ). Rama juga udah ketularan virus ini. Malam itu juga Rama jadi rewel seperti Krishna kemarin dan susah banget mau nenen, syukurlah Krishna sudah agak tenang dia sudah bisa tidur ga seperti malam sebelumnya. Sekarang giliran Rama yang rewel, tiap mau nenen dia nangis karena mungkin sakit di mulutnya. Dia sampai mukul-mukul saya, mungkin kesel karena nggak bisa mimik padahal haus. Rama juga minum obat yang sama dengan Krishna. Pagi harinya dia mulai agak nyaman setelah saya beri obat kedua kalinya sekitar jam 5 pagi.

Dan syukurlah sore harinya mereka sudah bisa main lagi walaupun belum benar-benar pulih. Setidaknya sudah tidak rewel lagi. PR nya mamak kembar sekarang adalah Krishna yang ngga mau maem bubur dan sejenisnya ( lagi muter otak buat menu makannya). Maunya maem es krim dan puding saja. Tetapi Rama, syukur banget ngga masalah maemnya, tetap mau maem walaupun tidak selahap biasanya.

Mama love you both sayang-sayang gantengku. Husssss husss jauh-jauh sana penyakit.

0

Menabung untuk Otonan Si Kembar

Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Bukankah itu sangat sering kita dengar sejak kecil. Semua orang pasti pernah melakukannya. Entah itu dalam urusan keuangan, atau hal-hal lainnya. Saat ini saya lagi menjalaninya. Ini dalam artian sesungguhnya loh. Jadi sekarang ini saya dan suami sedang memulai mengumpulkan receh demi receh biar nanti jadi bukit receh untuk suatu goal. Goal nya cukup sederhana sih. Kami mau membiayai otonan si kembar akhir tahun ini. Mungkin bagi sebagian besar orang acara otonan ( kalau yang masih belum tau, otonan itu artinya hari lahir, lebih lengkap silahkan googling aja ya , dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah weton ) hal yang sepele. Tapi tidak dengan kami, dananya memang perlu disiapkan.

To the point aja nih, sekarang ini kami lagi “mendonasikan” seluruh keuntungan bisnis untuk tabungan otonan ini. Jadi setiap penjualan apapun yang kita lakukan, entah itu popok, pulsa ataupun granola, untungnya dimasukin k toples plastik dan nanti rencananya bulan Desember baru dihitung. Semoga usaha kami tetap lancar dan tabungan itu cukup untuk acara bulan Desember.

Eh iya? pada belum tau kan kalau mamak kembar punya bisnis online? Hahaha. Ujung-ujungnya tetap promosi nih. Yang penasaran kepoin aja ya, kita jualan di mana-mana kok. Diantaranya :

Nama Toko di Shopee, Tokopedia dan Bukalapak :  Aande Baliethnic inget yahhh  Aande Baliethnic. Langsung search deh sekarang, produknya murah-murah kok, tapi ga murahan.

Kalau di Instagram beda lagi, nama lapaknya : @bayi.bali barang dagangannya macem-macem lah. Mamak kembar kan segala bisnis dicobain hahaha.

 

0

Nyobain FLIP yuk

Mau cerita tentang keuangan lagi ah… Ngga berat kok. Ini tentang aplikasi yang bernama FLIP. Mungkin sebagian dari anda sudah pernah denger bahkan sudah menggunakannya. Saya baru aja mau pakai nih. FLIP ini adalah sebuah layanan yang dapat digunakan untuk aktifitas transfer antar bank tanpa biaya ( hemat kan?? Mau kan?? ) bisa diakses via website https://flip.id/ atau unduh saja di smartphone Android anda melalui Play Store.

Yang paling penting FLIP ini karya anak bangsa Indonesia loh. Bangga #kibarmerahputih

Kok bisa gratis sih ?? Mana ada yang gratis?? Ga percaya kan ? Jadi cara kerjanya gini nih. Contohnya, saya punya rekening BRI mau transfer ke si A yang punya rekening BNI. Normalnya transaksi ini dikenakan biaya sebesar Rp 4.000 tetapi saat menggunakan FLIP, uang saya harus ditransfer ke rekening BRI milik FLIP. Nanti FLIP lah yang membantu mengirim sejumlah uang yang saya inginkan ke rekening BNI milik si A melalui rekening BNI milik FLIP. Jelas kan? No tipu-tipu lah ini.

Tau FLIP dari iklan, terus saya cuekin karena merasa ga penting dan ga berani nyoba, kan ini berkaitan dengan rekening bank. Bahaya kan, jaman sekarang kejahatan semakin canggih, pasti ada rasa was-was kalau masalah duit. Sempet juga ada yang nanya di grup, saya cuekin lagi. Dan terakhir ada yang bahas di IG dan saya mulai tertarik.

Langkah penggunaan cukup mudah. Nih saya ceritain step by  stepnya ya.

Langkah pertama : Unduh / download Aplikasinya di Play Store ( jangan malahan unduh mantu ,, #apaansih?. Tinggal Search Flip. Logonya warna oranye kaya gini nih

logo

Kedua : Ikuti langkah pendaftaran, ada beberapa yang harus diisi, seperti misalnya Nama, Tanggal Lahir, dan Nomor Identitas ( ini serius loh, artinya beneran pakai identitas yang valid yah, saya pakai NO KTP ).

Ketiga : Setelah pendaftaran selesai. Maka dibutuhkan verifikasi. FLIP ini aplikasi keuangan yang mendapatkan lisensi Bank Indonesia, jadi verifikasi ini WAJIB !!. Nah mudahnya, verifikasi bisa dilakukan di Alfamart teredekat loh. Tinggal datang aja, terus bilang mau Verifikasi FLIP. Saya mau cerita sedikit, waktu saya verifikasi FLIP di Alfamart deket kantor, mas kasirnya belum pernah tau sama sekali lohh tentang FLIP. Tapi di aplikasi sudah tersedia cara ngomong ke Mas Kasir, biar Mas Kasir bisa melakukan verifikasi ( serius ada loh ). Dan benar saja, akhirnya verifikasi berhasil, biaya verifikasi yang harus dibayar ke Mas Kasir hanya Rp 4.000 saja. Terima kasih Mas Kasir.

Keempat : Setelah verifikasi berhasil, maka pada aplikasi akan diarahkan untuk mengunggah identitas  ( saya pakai KTP lagi donk ). Ikuti instruksi selanjutnya yaitu verifikasi by email. Dan klik saja link yang terkirim ke email anda. And taraaaaa FLIP anda sudah bisa digunakan.

Dan sayangnya hari ini saya belum bisa transakasi karena FLIP sedang libur dari tanggal 23 – 29 Juni 2017. Aktif kembali tanggal 30 Juni 2017. Okelah bersabar sedikit lah ya.

Salam 🙂