0

Menabung untuk Otonan Si Kembar

Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Bukankah itu sangat sering kita dengar sejak kecil. Semua orang pasti pernah melakukannya. Entah itu dalam urusan keuangan, atau hal-hal lainnya. Saat ini saya lagi menjalaninya. Ini dalam artian sesungguhnya loh. Jadi sekarang ini saya dan suami sedang memulai mengumpulkan receh demi receh biar nanti jadi bukit receh untuk suatu goal. Goal nya cukup sederhana sih. Kami mau membiayai otonan si kembar akhir tahun ini. Mungkin bagi sebagian besar orang acara otonan ( kalau yang masih belum tau, otonan itu artinya hari lahir, lebih lengkap silahkan googling aja ya , dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah weton ) hal yang sepele. Tapi tidak dengan kami, dananya memang perlu disiapkan.

To the point aja nih, sekarang ini kami lagi “mendonasikan” seluruh keuntungan bisnis untuk tabungan otonan ini. Jadi setiap penjualan apapun yang kita lakukan, entah itu popok, pulsa ataupun granola, untungnya dimasukin k toples plastik dan nanti rencananya bulan Desember baru dihitung. Semoga usaha kami tetap lancar dan tabungan itu cukup untuk acara bulan Desember.

Eh iya? pada belum tau kan kalau mamak kembar punya bisnis online? Hahaha. Ujung-ujungnya tetap promosi nih. Yang penasaran kepoin aja ya, kita jualan di mana-mana kok. Diantaranya :

Nama Toko di Shopee, Tokopedia dan Bukalapak :  Aande Baliethnic inget yahhh  Aande Baliethnic. Langsung search deh sekarang, produknya murah-murah kok, tapi ga murahan.

Kalau di Instagram beda lagi, nama lapaknya : @bayi.bali barang dagangannya macem-macem lah. Mamak kembar kan segala bisnis dicobain hahaha.

 

0

Nyobain FLIP yuk

Mau cerita tentang keuangan lagi ah… Ngga berat kok. Ini tentang aplikasi yang bernama FLIP. Mungkin sebagian dari anda sudah pernah denger bahkan sudah menggunakannya. Saya baru aja mau pakai nih. FLIP ini adalah sebuah layanan yang dapat digunakan untuk aktifitas transfer antar bank tanpa biaya ( hemat kan?? Mau kan?? ) bisa diakses via website https://flip.id/ atau unduh saja di smartphone Android anda melalui Play Store.

Yang paling penting FLIP ini karya anak bangsa Indonesia loh. Bangga #kibarmerahputih

Kok bisa gratis sih ?? Mana ada yang gratis?? Ga percaya kan ? Jadi cara kerjanya gini nih. Contohnya, saya punya rekening BRI mau transfer ke si A yang punya rekening BNI. Normalnya transaksi ini dikenakan biaya sebesar Rp 4.000 tetapi saat menggunakan FLIP, uang saya harus ditransfer ke rekening BRI milik FLIP. Nanti FLIP lah yang membantu mengirim sejumlah uang yang saya inginkan ke rekening BNI milik si A melalui rekening BNI milik FLIP. Jelas kan? No tipu-tipu lah ini.

Tau FLIP dari iklan, terus saya cuekin karena merasa ga penting dan ga berani nyoba, kan ini berkaitan dengan rekening bank. Bahaya kan, jaman sekarang kejahatan semakin canggih, pasti ada rasa was-was kalau masalah duit. Sempet juga ada yang nanya di grup, saya cuekin lagi. Dan terakhir ada yang bahas di IG dan saya mulai tertarik.

Langkah penggunaan cukup mudah. Nih saya ceritain step by  stepnya ya.

Langkah pertama : Unduh / download Aplikasinya di Play Store ( jangan malahan unduh mantu ,, #apaansih?. Tinggal Search Flip. Logonya warna oranye kaya gini nih

logo

Kedua : Ikuti langkah pendaftaran, ada beberapa yang harus diisi, seperti misalnya Nama, Tanggal Lahir, dan Nomor Identitas ( ini serius loh, artinya beneran pakai identitas yang valid yah, saya pakai NO KTP ).

Ketiga : Setelah pendaftaran selesai. Maka dibutuhkan verifikasi. FLIP ini aplikasi keuangan yang mendapatkan lisensi Bank Indonesia, jadi verifikasi ini WAJIB !!. Nah mudahnya, verifikasi bisa dilakukan di Alfamart teredekat loh. Tinggal datang aja, terus bilang mau Verifikasi FLIP. Saya mau cerita sedikit, waktu saya verifikasi FLIP di Alfamart deket kantor, mas kasirnya belum pernah tau sama sekali lohh tentang FLIP. Tapi di aplikasi sudah tersedia cara ngomong ke Mas Kasir, biar Mas Kasir bisa melakukan verifikasi ( serius ada loh ). Dan benar saja, akhirnya verifikasi berhasil, biaya verifikasi yang harus dibayar ke Mas Kasir hanya Rp 4.000 saja. Terima kasih Mas Kasir.

Keempat : Setelah verifikasi berhasil, maka pada aplikasi akan diarahkan untuk mengunggah identitas  ( saya pakai KTP lagi donk ). Ikuti instruksi selanjutnya yaitu verifikasi by email. Dan klik saja link yang terkirim ke email anda. And taraaaaa FLIP anda sudah bisa digunakan.

Dan sayangnya hari ini saya belum bisa transakasi karena FLIP sedang libur dari tanggal 23 – 29 Juni 2017. Aktif kembali tanggal 30 Juni 2017. Okelah bersabar sedikit lah ya.

Salam 🙂

0

Nugget homemade hampir gagal

Beberapa hari lalu saya liat di timeline Facebook ada yang ngeshare cara bikin nugget, intip-intip lalu muncul ide buat bikin nugget buat si kembar. Dulu waktu belum nikah sudah pernah beberapa kali bikin nugget, kadang berhasil, enak dan habis. Kadang tersisa karena gagal, bantet, rasanya kaya tepung goreng ( hahaha ).

Kembali lagi ke cerita nugget si kembar. Niat bikin nugget dimulai dari belanja ayam, pas beli ayam milih dada, tapi sama dagangnya malah dikasi campur-campur ya walaupun sebagian besar isinya dada. Sampai rumah, masukin kulkas, besoknya mau dimasak udah keluar kulkas. Eh masukin lagi karena mau pergi. Akhirnya baru dimasak dua hari setelah beli.

Pas udah motong bahan, cincang daging ayam, eh si kembar nangis minta nenen mau bobo. Akhirnya adonan setengah jadi masuk kulkas lagi. Setelah situasi aman, saya lanjutin ngeblender adonan nugget. Ngaduknya pakai blender biasa lohh ibu ibu, blender yang buat buah itu loh. Campuran adonan kurang lebih 7 ons lah ya, karena ayamnya yang dibeli 1 kg udah difillet. Setelah semua siap saya tekan tombol angka 1. Blender pun berputar, tapiiiii….. Kok berasap ya? Saya cek lagi, oh mungkin karena berat kerja, saya aduk adonan ( ga ada pikiran sama sekali buat ngurangin isinya ), nambah air. Dan tekan angka 1 lagi, asap keluar lagi. Waduuhhhh. Begitu seterusnya kira-kira sampe 4 kali on off. Dan terakhir, keluar percikan api. Pas saya tekan angka 1 lagi, pisau blendernya ga mau muter. Nah lohhhhh anda tidak beruntung.

Blender rusak dan adonan masih kasar dan si kembar rewel karena rebutan mainan.

Tapi saya ngga mau patah semangat donk, selanjutnya adonan itu saya halusin lagi pakai handblender secara bertahap( semangaaatttt ). Lalu dikukus, dan matangnya sempurna. Tapi tetottttt lupa ngasi garam. Hahaha.

Pas sudah digoreng dan disajikan, hasilnya tidak mengecewakan sama sekali, semuanya sukaaaaa. Bahkan Rama sama Krishna sampai balik ke dapur mau minta dicemilin. Ahayyyy!!!!!!!

Jadi bener kan kalau ada yang bilang tidak ada hasil yang mengingkari usaha? ( eh bener ya quote nya begini )

Salam 🙂

0

Mengincar peralatan masak Royal VKB di Alfamart

Berapa banyak emak-emak di dunia ini yang ga suka diskon ya?? Saya tidak termasuk di dalamnya. Saya kan emak-emak diskon, kadang ada diskon yang beneran dan ga jarang juga diskon bohongan. Ngomong-ngomong soal diskon saya punya cerita seru nih. Seru sih menurut saya.

Beberapa waktu yang lalu saya liat postingan teman di Facebook, dia ngeliatin hasil nuker cooking wear merk Royal VKB yang dia dapat hasil tukar stamp di Alfamart. Saya kan jadi kepo, ini kok bisa dapat barang bagus gini. Langsung deh saya cus nanya-nany lewat BBM ke yang bersangkutan. Ternyata, alat masak itu diperoleh dengan mengumpulkan stamp dalam jumlah tertentu dan nanti bisa ditukar dengan di gerai Alfamart terdekat dan membayar dengan harga diskon ( ya diskon, karena harga aslinya ga segitu kok ). Langsung deh saya pengen, mulai hari itu diniatkan ngumpulin stamp. Tiap mau beli-beli apa, tujuannya ke Alfamart. Kebetulan di Alfamart tiap hari Jumat, Sabtu, Minggu ada promo diapers, pas lah sekali menempuh dayung dua tiga pulau terlampaui ( aiiiiiihhh ciahhhh ). Tiap pembelanjaan sebesar Rp 30.000 dapat 1 stamp, ada juga stamp bonus dengan berbelanja produk sponsor.

Adalagi cerita lain, pertama kali saya minta stamp ke kasir, saya dikasi stamp fisik lebih dari yang seharusnya saya terima, wuihhh dengan senang hati donk sayang terima ( makasi banyak mas kasir yang baik hati ). Mulai deh saya kumpulin tuh stamp fisik sampai terkumpul 15 biji. Dan setelah itu saya kumpulin stamp digital juga. Pokoknya dengan semangat baja deh buat dapetin alat masak ini.

Saat tiba waktu penukaran karena stamp yang terkumpul sudah mencukupi, saya tahan dulu, karena alasan utamanya duitnya masih buat yang lain sih, hihihi. Akhir bulan April ini saya baru mulai nanya-nanya ke gerai Alfamart terdekat buat nyari alat masak inceran saya. Dan ternyata tetotttt, sebagian besar sudah habis, dan produk yang saya incer ( Casserole Royal VKB ) bener-bener sudah habis. Gerai terkahir yang saya tanyain, menjelaskan kalau bisa pesan dulu kok kalau memang kehabisan, nanti kalau barang sudah ready akan diberi kabar ( Ini satu-satunya yang beneran mau kasi info ini, walaupun sebenarnya saya sudah tau bisa nuker dengan cara ini ). Saya jadi jatuh cinta  sama kasir itu, eh salah, saya jadi yakin kalau mau tuker stamp di gerai Alfamart ini saja ( Gerai Alfamart di By pass Ngurah Rai dekat Simpang Siur, kiri jalan kalau dari arah Bandara ke Simpang Siur ).

Beneran donk, kemarin tanggal 30 April 2017, saya nukerin stamp fisik saya di sana. Dilayani dengan sangat baik, sebenarnya stamp yang terkumpul berjumlah 15 biji, tapi saya menukar dengan produk Sauce Pan yang cukup dengan 10 biji stamp saja ditambah uang sebesar Rp 89.900 ( gpp saya ikhlas kok, kan tadi udah bilang, awalnya bisa dapat banyak stamp kaya apa, hahaha ). Seneng banget lah pengorbana saya ngumpulin stamp ga sia-sia. Dan produk yang saya mau ready di sana. Ntar lagi mau nuker Casserole nya ya Mas, nunggu stamp digitalnya terkumpul, kata saya ke mas kasir. Terima kasih Alfamart dan mas-mas Alfamart yang baik hati di sana

20170430_213534

Ini dia Sauce Pan Royal VKB inceran saya dan belanjaan diapersnya

Salam 🙂

0

My life with twins

Saat orang lain melihat kelucuan foto anak-anak kembar, ngga sedikit orang yang berharap pengen punya anak kembar. Bahkan beberapa waktu lalu viral di medsos postingan “menjebak” dari ibu-ibu yang memposting foto hasil USG bayi kembar.

Tetapi, mempunyai anak plus dianugerahi anak kembar yang sehat sempurna adalah pemberian Tuhan yang sudah sangat lebih dari apa yang saya harapkan. Setelah lebih dari satu tahun menunggu dengan berbagai usaha dan doa. Saat bayi-bayi mungil itu hadir ke dunia, kami ( saya dan suami ) sebagai orang tua baru benar-benar mulai dari nol. Bagi saya mengurus dan merawat bayi sudah pernah saya alami waktu kehadiran adik bungsu saya yang lahir saat saya sudah berusia 17 tahun, walaupun tidak sepenuhnya dengan kondisi yang sama. Sementara, sekarang saya harus benar-benar berhadapan dengan dua bayi, kondisi mereka yang lahir premature dan berat badan lahir rendah. Sekitar dua hingga tiga bulan pertama setelah melahirkan, bapak dan mama saya masih datang setiap malam dan menginap di rumah kami, tetapi pagi hari mereka pulang dan kembali lagi saat sore hari karena harus bekerja. Kalau orang tua saya tidak bisa membantu, entah bagaimana jadinya. Bersyukurlah mereka masih sehat dan sangat membantu kami.

Setelah kembali bekerja sehabis cuti melahirkan selama tiga bulan ( maunya saya 6 bulan sih, kan anaknya dua, maunya saya ) kerepotan lain dimulai. Saat pagi hari menyiapkan perlengkapan pumping, menyiapkan sarapan untuk suami. Saat saya tinggal bekerja anak-anak diasuh suami, dan dibantu juga oleh bapak saya ( ga cukup rasanya sebanyak apapun saya berterima kasih atas semua pengorbanan orang tua saya ).

Kerepotan berikutnya saat mereka mulai MPASI ( Makanan Pendamping ASI ), awal-awal MPASI saya siapkan menu tunggal seperti yang dibahas di grup-grup MPASI. Mulai ke sini saya makin jarang masakin anak-anak. Sempat juga saya agak kecewa dengan suami, karena saya sudah capek-capek masak, tapi suami saya ga mau nyuapin karena katanya anak-anak ngga suka, jadi mesti dua kali kerja karena tetep harus nyeduh bubur instan juga. Ya begitulah memang kondisinya, ada up and down nya, itu pasti. Up nya itu pada saat saya masakin dan anak-anak makan dengan lahapnya. Ihhh seneng banget deh pokoknya, sampai nunggu waktu makan berikutnya, hahaha.

“Trus apa bedanya punya anak kembar dan anak tunggal ?”

Pastinya berbeda. Pertama, kalau dilihat dari segi pengeluaran, hampir sebagian besar pengeluaran untuk anak dikalikan dua, misalnya popok, pakaian, perlengkapan bayi, tetapi ga semua juga sih, ada barang-barang yang ga saya beli 2 biji, kaya misalnya carseat ( demi menghemat juga sih ).  Kedua, saat punya anak kembar, waktu istirahat akan berkurang, karena saat anda punya anak tunggal, saat anak anda tidur, berarti anda bebas menentukan pilihan mau ikut tidur atau mengerjakan sesuatu sambil menunggu si kecil bangun tidur. Tapi untuk ibu-ibu kembar, saat satu anak tidur, dan anak yang lain belum tidur, tetottt. Makanya akan sangat “efisien” kalau waktu tidur dan makan mereka berbarengan, tapi ini tidak selalu terjadi pemirsah. Ketiga, akan sangat terasa jika ingin bepergian, saat punya anak tunggal, ayah, ibu dan anak, kalau dibuat perbandingan, dua orang mengawasi satu anak ( belum dihitung bagi yang mengajak baby sitter ). Sementara untuk kondisi keluarga saya, saya, suami dan dua anak, jadi perbandingannya satu ornag mengawasi satu anak. Nanti saya ceritain deh bagaimana dan apa aja yang dibawa saat kami bepergian. Seru dehhh. Yang lain, yang ga kalah penting juga, hampir setiap ketemu orang-orang, kami ditanyain dengan pertanyaan yang sama, “anaknya kembar ya?” Lalu ditambah dengan pertanyaan, “Cewe apa cowo?” ( hahaha ini agak lucu, karena banyak yang bingung ini si kembar cewe apa cowo, abis mata mereka lentik kaya cewe sih ).

Sekian dulu lah ya ceritanya, nanti kita lanjut lagi

Salama 🙂

 

0

Suka Duka Memanfaatkan BPJS ( Bagian II )

Kali kedua memanfaatkan BPJS yaitu pada saat saya melahirkan. Si kembar lahir pada usia kehamilan 35 minggu. Karena kondisi mereka yang mengalami TTTS ( Twin To Twin Transfussion Syndrome ). Dokter memutuskan untuk mengambil tindakan SC. Tanggal 22 Maret 2016 saya datang periksa ke tempat praktek dokter dan diberi surat rujukan untuk dibawa ke RS, malam itu saya harus mendapat suntikan pematang paru-paru, karena kondisi ruang rawat sudah full dan saya harus menunggu di ruang VK saya putuskan untuk istirahat di rumah saja sambil menunggu suntikan berikutnya yaitu 24 jam kemudian, tanggal 23 Maret 2016. Operasi direncakan tanggal 24 Maret 2016.

Sejak awal semua persiapan menyangkut BPJS sudah saya siapkan, bahkan sebelum SC saya sempat bertanya kepada petugas administrasi tentang biaya NICU. Sama seperti sebelumnya, kali ini pun saya harus naik kelas karena fasilitasi kamar kelas II sudah penuh, suami saya meminta kamar VIP C, tapi yang tersedia adalah VIP B, namun petugas mengatakan biaya yang dikenakan adalah VIP C. Okelah ga apa apa,  saya pasrah saja, yang penting dapat penanganan secepatnya.

Beberapa bulan sebelum melahirkan saya sudah menmgumpulkan informasi tentang penggunaan BPJS, saya hubungi Call Center BPJS ( No telepon : 1500 400 ), saya tanyakan apakah bayi-bayi saya bisa didaftarkan  ( karena dari informasi yang saya dapat, bayi kembar rawan lahir premature dan BBLR sehingga harus menyiapkan kalau bayi-bayi saya harus dirawat di NICU ). Jawaban dari petugas Call Center BPJS adalah sbb :

  1. Bayi di dalam kandungan saya tidak bisa didaftarkan karena tanggungan BPJS saya adalah sebagai Pekerja Penerima Upah. Pendaftaran bayi di dalam kandungan hanya berlaku untuk keanggotaan BPJS Mandiri. ( Oke saya terima, kalau memang peraturannya seperti ini).
  2. Saya bisa mendaftarkan bayi saya untuk dibuatkan kartu sementara yaitu dengan jangka waktu maksimal adalah 3 hari kerja setelah lahir, dengan membawa surat keterangan lahir dan kartu Askes saya ( ya saya masih pakai kartu ASKES ).

Berbekal informasi ini, setelah proses melahirkan yaitu Kamis, 24 Maret 2016 saya tanyakan surat keterangan lahir berkali-kali kepada petugas RS. Karena tanggal 25 Maret 2016 adalah hari libur nasional. Dan semua pengurusan surat-surat BPJS saya percayakan kepada Bapak saya. Menurut info dari petugas RS, kantor BPJS buka hari Sabtu tanggal 26 Maret 2016 ( ini serius info yang salah, karena pas Bapak saya ke sana ternyata kantornya tutup hari Sabtu ).

Lahir tanggal 24 Maret 2016, karena kondisi bayi dengan berat badan lahir rendah ( BBLR ), si kembar harus dirawat di NICU ( Neonatal Intensif Care Unit ). Empat hari mereka di sana, dan sebagai ibu saya tidak dapat ungkapkan rasanya melihat anak-anak di dalam kotak itu dengan infus dan monitornya. Hari Senin tanggal 28 Maret 2016, atas persetujuan dokter anak-anak saya sudah diperbolehkan pulang. Saya ditanyakan petugas RS apakah kartu BPJS nya sudah diurus, saya jawab sedang diurus. Karena Bapak saya sudah menuju kantor BPJS. Akhirnya sekitar jam 10 pagi, bapak saya mengabarkan kalau petugas di BPJS meminta beberapa dokumen yang tentu saja tidak bisa saya lengkapi saat itu juga ( ini sangat berbeda dengan informasi yang saya peroleh dari Call Center ). Bapak saya dimintai Surat Keterangan Dari Kantor Saya( Masa iya saya harus ke kantor saat itu juga?), Daftar Gaji ( Ini juga mesti ngurus dengan bendahara kantor ) dll. Dan karena itulah Bapak saya akhirnya memutuskan untuk tidak mengurus karena surat-surat yang diminta tidak bisa dilengkapi. Dan akhirnya, saya katakan pada petugas RS, bahwa anak-anak saya dimasukan ke Pasien Umum saja, karena kartu BPJS nya tidak bisa diurus. Tidak berapa lama, total biaya perawatan keluar, dibayar dan anak-anak saya bisa pulang. Karena pengalaman ini, akhir-akhir ini saya suka sedih kalau melihat berita pasien yang terpaksa pulang atau “dipaksa” pulang karena tidak mampu membayar biaya RS, hiksss.

Dan untuk perawatan saya selama proses melahirkan, mendapatkan tanggungan BPJS ( sekitar sepertiga dari total biaya perawatan ) dan sisanya ( dua pertiga nya harus saya bayar ) kalau dari analisa sotoy saya kemungkinan selisih biaya ini karena saya naik kelas, saya tidak banyak bertanya tetang hal ini, karena saya sudah mengerti konsekuensi keputusan saya untuk naik kelas ).

Sejujurnya saya kecewa, karena perbedaan informasi antara Call Center dengan Petugas di Kantor BPJS Kesehatan Gianyar, yang mengakibatkan anak-anak saya tidak mendapatkan tanggungan dari BPJS pada saat mereka dirawat di NICU. Semoga ke depan pelayan BPJS menjadi lebih baik lagi.

Salam 🙂

 

0

Suka Duka Memanfaatkan BPJS ( Bagian I )

Sebenarnya postingan ini mau saya publish bulan Maret, tapi karena kesibukan yang ngga jelas, saya baru bisa publish sekarang. Tapi ngga apa-apa kan?? Ngga basi kok ceritanya.

Bulan Maret mengingatkan saya banyak hal, salah satunya adalah pengalaman pertama saya memanfaatkan fasilitas BPJS. Sebelum melahirkan, saya sempat dirawat satu malam di RS. Karena kondisi bayi saya yang perlu diobservasi, udah saya ceritain di sini. Pertama kali ke RS saya masuk lewat UGD, karena saya membawa surat rujukan dari dokter spesialis kandungan yang menangani saya. Pada saat pendaftaran, saya tanyakan apakah untuk proses melahirkan nanti saya perlu membawa rujukan dari Faskes Tk I ( Puskesmas ) ? Petugasnya menjawab, kalau emergency tidak perlu, tetapi kalau tidak emergency sebaiknya membawa surat rujukan dari Puskesmas.

Karena hamil kembar beresiko bayi lahir prematur, dan bermacam resiko lainnya ( because twin pregnancy is high risk pregnancy ) sejak awal saya sudah mencari informasi tentang  RS yang menyediakan NICU, tentang tanggungan BPJS untuk ibu dan bayinya de el el. Banyak kalau harus cerita di sini semua.

Pengalaman pertama masuk sebagai pasien BPJS, saya sebenarnya mendapat fasilitas kelas dua sesuai dengan golongan ( maklum abdi negara newbie ) tetapi karena kondisi pasien RS yang sedang membludak karena pada saat itu di Bali sedang mewabah Demam Berdarah Dengue. Suami memutuskan pilih kamar VIP C ( naik kelas dari kelas II, kelas I, ke VIP C, dua tingkat nih ). Dalam hati saya udah menerka nerka, ntar nambah deh nih, naiknya dua tingkat fasilitas kamar pasti diikuti obat dll nya. Semalam di RS, bisa dibilang dari segi fasilitas nyaman sekali, dan pssssstt pas giliran sarapan saya minta nambah 1 porsi loh, abisnya laper sih, hahaha.

Agak siang, sekitar jam 1 dokter yang menangani saya datang untuk melihat kondisi saya dan kehamilan saya. Ternyata hasilnya baik-baik saja dan saya dibolehkan untuk pulang.  Abis diperiksa dokter di rungan VK ( saya ngga tau istilah ini artinya apa, yang pasti ini ruangan untuk melahirkan ), saya dibawa kemabli ke kamar rawat dan suami disuruh untuk menyelesaikan administrasi. Sambil nunggu suami ke bagian administrasi, saya mandi ( mumpung ada shower air panas di dalam ruang rawat ). Abis mandi suami saya datang dan bawa kabar kalau tadi di bagian administrasi disuruh tandatangan kwitansi, terus saya kan pasti tanya, nambah berapa? Dan suami saya jawab GRATIS ( Aahhhhh senangnya, rejeki si kembar deh ini )