0

Mengincar peralatan masak Royal VKB di Alfamart

Berapa banyak emak-emak di dunia ini yang ga suka diskon ya?? Saya tidak termasuk di dalamnya. Saya kan emak-emak diskon, kadang ada diskon yang beneran dan ga jarang juga diskon bohongan. Ngomong-ngomong soal diskon saya punya cerita seru nih. Seru sih menurut saya.

Beberapa waktu yang lalu saya liat postingan teman di Facebook, dia ngeliatin hasil nuker cooking wear merk Royal VKB yang dia dapat hasil tukar stamp di Alfamart. Saya kan jadi kepo, ini kok bisa dapat barang bagus gini. Langsung deh saya cus nanya-nany lewat BBM ke yang bersangkutan. Ternyata, alat masak itu diperoleh dengan mengumpulkan stamp dalam jumlah tertentu dan nanti bisa ditukar dengan di gerai Alfamart terdekat dan membayar dengan harga diskon ( ya diskon, karena harga aslinya ga segitu kok ). Langsung deh saya pengen, mulai hari itu diniatkan ngumpulin stamp. Tiap mau beli-beli apa, tujuannya ke Alfamart. Kebetulan di Alfamart tiap hari Jumat, Sabtu, Minggu ada promo diapers, pas lah sekali menempuh dayung dua tiga pulau terlampaui ( aiiiiiihhh ciahhhh ). Tiap pembelanjaan sebesar Rp 30.000 dapat 1 stamp, ada juga stamp bonus dengan berbelanja produk sponsor.

Adalagi cerita lain, pertama kali saya minta stamp ke kasir, saya dikasi stamp fisik lebih dari yang seharusnya saya terima, wuihhh dengan senang hati donk sayang terima ( makasi banyak mas kasir yang baik hati ). Mulai deh saya kumpulin tuh stamp fisik sampai terkumpul 15 biji. Dan setelah itu saya kumpulin stamp digital juga. Pokoknya dengan semangat baja deh buat dapetin alat masak ini.

Saat tiba waktu penukaran karena stamp yang terkumpul sudah mencukupi, saya tahan dulu, karena alasan utamanya duitnya masih buat yang lain sih, hihihi. Akhir bulan April ini saya baru mulai nanya-nanya ke gerai Alfamart terdekat buat nyari alat masak inceran saya. Dan ternyata tetotttt, sebagian besar sudah habis, dan produk yang saya incer ( Casserole Royal VKB ) bener-bener sudah habis. Gerai terkahir yang saya tanyain, menjelaskan kalau bisa pesan dulu kok kalau memang kehabisan, nanti kalau barang sudah ready akan diberi kabar ( Ini satu-satunya yang beneran mau kasi info ini, walaupun sebenarnya saya sudah tau bisa nuker dengan cara ini ). Saya jadi jatuh cinta  sama kasir itu, eh salah, saya jadi yakin kalau mau tuker stamp di gerai Alfamart ini saja ( Gerai Alfamart di By pass Ngurah Rai dekat Simpang Siur, kiri jalan kalau dari arah Bandara ke Simpang Siur ).

Beneran donk, kemarin tanggal 30 April 2017, saya nukerin stamp fisik saya di sana. Dilayani dengan sangat baik, sebenarnya stamp yang terkumpul berjumlah 15 biji, tapi saya menukar dengan produk Sauce Pan yang cukup dengan 10 biji stamp saja ditambah uang sebesar Rp 89.900 ( gpp saya ikhlas kok, kan tadi udah bilang, awalnya bisa dapat banyak stamp kaya apa, hahaha ). Seneng banget lah pengorbana saya ngumpulin stamp ga sia-sia. Dan produk yang saya mau ready di sana. Ntar lagi mau nuker Casserole nya ya Mas, nunggu stamp digitalnya terkumpul, kata saya ke mas kasir. Terima kasih Alfamart dan mas-mas Alfamart yang baik hati di sana

20170430_213534

Ini dia Sauce Pan Royal VKB inceran saya dan belanjaan diapersnya

Salam 🙂

0

My life with twins

Saat orang lain melihat kelucuan foto anak-anak kembar, ngga sedikit orang yang berharap pengen punya anak kembar. Bahkan beberapa waktu lalu viral di medsos postingan “menjebak” dari ibu-ibu yang memposting foto hasil USG bayi kembar.

Tetapi, mempunyai anak plus dianugerahi anak kembar yang sehat sempurna adalah pemberian Tuhan yang sudah sangat lebih dari apa yang saya harapkan. Setelah lebih dari satu tahun menunggu dengan berbagai usaha dan doa. Saat bayi-bayi mungil itu hadir ke dunia, kami ( saya dan suami ) sebagai orang tua baru benar-benar mulai dari nol. Bagi saya mengurus dan merawat bayi sudah pernah saya alami waktu kehadiran adik bungsu saya yang lahir saat saya sudah berusia 17 tahun, walaupun tidak sepenuhnya dengan kondisi yang sama. Sementara, sekarang saya harus benar-benar berhadapan dengan dua bayi, kondisi mereka yang lahir premature dan berat badan lahir rendah. Sekitar dua hingga tiga bulan pertama setelah melahirkan, bapak dan mama saya masih datang setiap malam dan menginap di rumah kami, tetapi pagi hari mereka pulang dan kembali lagi saat sore hari karena harus bekerja. Kalau orang tua saya tidak bisa membantu, entah bagaimana jadinya. Bersyukurlah mereka masih sehat dan sangat membantu kami.

Setelah kembali bekerja sehabis cuti melahirkan selama tiga bulan ( maunya saya 6 bulan sih, kan anaknya dua, maunya saya ) kerepotan lain dimulai. Saat pagi hari menyiapkan perlengkapan pumping, menyiapkan sarapan untuk suami. Saat saya tinggal bekerja anak-anak diasuh suami, dan dibantu juga oleh bapak saya ( ga cukup rasanya sebanyak apapun saya berterima kasih atas semua pengorbanan orang tua saya ).

Kerepotan berikutnya saat mereka mulai MPASI ( Makanan Pendamping ASI ), awal-awal MPASI saya siapkan menu tunggal seperti yang dibahas di grup-grup MPASI. Mulai ke sini saya makin jarang masakin anak-anak. Sempat juga saya agak kecewa dengan suami, karena saya sudah capek-capek masak, tapi suami saya ga mau nyuapin karena katanya anak-anak ngga suka, jadi mesti dua kali kerja karena tetep harus nyeduh bubur instan juga. Ya begitulah memang kondisinya, ada up and down nya, itu pasti. Up nya itu pada saat saya masakin dan anak-anak makan dengan lahapnya. Ihhh seneng banget deh pokoknya, sampai nunggu waktu makan berikutnya, hahaha.

“Trus apa bedanya punya anak kembar dan anak tunggal ?”

Pastinya berbeda. Pertama, kalau dilihat dari segi pengeluaran, hampir sebagian besar pengeluaran untuk anak dikalikan dua, misalnya popok, pakaian, perlengkapan bayi, tetapi ga semua juga sih, ada barang-barang yang ga saya beli 2 biji, kaya misalnya carseat ( demi menghemat juga sih ).  Kedua, saat punya anak kembar, waktu istirahat akan berkurang, karena saat anda punya anak tunggal, saat anak anda tidur, berarti anda bebas menentukan pilihan mau ikut tidur atau mengerjakan sesuatu sambil menunggu si kecil bangun tidur. Tapi untuk ibu-ibu kembar, saat satu anak tidur, dan anak yang lain belum tidur, tetottt. Makanya akan sangat “efisien” kalau waktu tidur dan makan mereka berbarengan, tapi ini tidak selalu terjadi pemirsah. Ketiga, akan sangat terasa jika ingin bepergian, saat punya anak tunggal, ayah, ibu dan anak, kalau dibuat perbandingan, dua orang mengawasi satu anak ( belum dihitung bagi yang mengajak baby sitter ). Sementara untuk kondisi keluarga saya, saya, suami dan dua anak, jadi perbandingannya satu ornag mengawasi satu anak. Nanti saya ceritain deh bagaimana dan apa aja yang dibawa saat kami bepergian. Seru dehhh. Yang lain, yang ga kalah penting juga, hampir setiap ketemu orang-orang, kami ditanyain dengan pertanyaan yang sama, “anaknya kembar ya?” Lalu ditambah dengan pertanyaan, “Cewe apa cowo?” ( hahaha ini agak lucu, karena banyak yang bingung ini si kembar cewe apa cowo, abis mata mereka lentik kaya cewe sih ).

Sekian dulu lah ya ceritanya, nanti kita lanjut lagi

Salama 🙂

 

0

Suka Duka Memanfaatkan BPJS ( Bagian II )

Kali kedua memanfaatkan BPJS yaitu pada saat saya melahirkan. Si kembar lahir pada usia kehamilan 35 minggu. Karena kondisi mereka yang mengalami TTTS ( Twin To Twin Transfussion Syndrome ). Dokter memutuskan untuk mengambil tindakan SC. Tanggal 22 Maret 2016 saya datang periksa ke tempat praktek dokter dan diberi surat rujukan untuk dibawa ke RS, malam itu saya harus mendapat suntikan pematang paru-paru, karena kondisi ruang rawat sudah full dan saya harus menunggu di ruang VK saya putuskan untuk istirahat di rumah saja sambil menunggu suntikan berikutnya yaitu 24 jam kemudian, tanggal 23 Maret 2016. Operasi direncakan tanggal 24 Maret 2016.

Sejak awal semua persiapan menyangkut BPJS sudah saya siapkan, bahkan sebelum SC saya sempat bertanya kepada petugas administrasi tentang biaya NICU. Sama seperti sebelumnya, kali ini pun saya harus naik kelas karena fasilitasi kamar kelas II sudah penuh, suami saya meminta kamar VIP C, tapi yang tersedia adalah VIP B, namun petugas mengatakan biaya yang dikenakan adalah VIP C. Okelah ga apa apa,  saya pasrah saja, yang penting dapat penanganan secepatnya.

Beberapa bulan sebelum melahirkan saya sudah menmgumpulkan informasi tentang penggunaan BPJS, saya hubungi Call Center BPJS ( No telepon : 1500 400 ), saya tanyakan apakah bayi-bayi saya bisa didaftarkan  ( karena dari informasi yang saya dapat, bayi kembar rawan lahir premature dan BBLR sehingga harus menyiapkan kalau bayi-bayi saya harus dirawat di NICU ). Jawaban dari petugas Call Center BPJS adalah sbb :

  1. Bayi di dalam kandungan saya tidak bisa didaftarkan karena tanggungan BPJS saya adalah sebagai Pekerja Penerima Upah. Pendaftaran bayi di dalam kandungan hanya berlaku untuk keanggotaan BPJS Mandiri. ( Oke saya terima, kalau memang peraturannya seperti ini).
  2. Saya bisa mendaftarkan bayi saya untuk dibuatkan kartu sementara yaitu dengan jangka waktu maksimal adalah 3 hari kerja setelah lahir, dengan membawa surat keterangan lahir dan kartu Askes saya ( ya saya masih pakai kartu ASKES ).

Berbekal informasi ini, setelah proses melahirkan yaitu Kamis, 24 Maret 2016 saya tanyakan surat keterangan lahir berkali-kali kepada petugas RS. Karena tanggal 25 Maret 2016 adalah hari libur nasional. Dan semua pengurusan surat-surat BPJS saya percayakan kepada Bapak saya. Menurut info dari petugas RS, kantor BPJS buka hari Sabtu tanggal 26 Maret 2016 ( ini serius info yang salah, karena pas Bapak saya ke sana ternyata kantornya tutup hari Sabtu ).

Lahir tanggal 24 Maret 2016, karena kondisi bayi dengan berat badan lahir rendah ( BBLR ), si kembar harus dirawat di NICU ( Neonatal Intensif Care Unit ). Empat hari mereka di sana, dan sebagai ibu saya tidak dapat ungkapkan rasanya melihat anak-anak di dalam kotak itu dengan infus dan monitornya. Hari Senin tanggal 28 Maret 2016, atas persetujuan dokter anak-anak saya sudah diperbolehkan pulang. Saya ditanyakan petugas RS apakah kartu BPJS nya sudah diurus, saya jawab sedang diurus. Karena Bapak saya sudah menuju kantor BPJS. Akhirnya sekitar jam 10 pagi, bapak saya mengabarkan kalau petugas di BPJS meminta beberapa dokumen yang tentu saja tidak bisa saya lengkapi saat itu juga ( ini sangat berbeda dengan informasi yang saya peroleh dari Call Center ). Bapak saya dimintai Surat Keterangan Dari Kantor Saya( Masa iya saya harus ke kantor saat itu juga?), Daftar Gaji ( Ini juga mesti ngurus dengan bendahara kantor ) dll. Dan karena itulah Bapak saya akhirnya memutuskan untuk tidak mengurus karena surat-surat yang diminta tidak bisa dilengkapi. Dan akhirnya, saya katakan pada petugas RS, bahwa anak-anak saya dimasukan ke Pasien Umum saja, karena kartu BPJS nya tidak bisa diurus. Tidak berapa lama, total biaya perawatan keluar, dibayar dan anak-anak saya bisa pulang. Karena pengalaman ini, akhir-akhir ini saya suka sedih kalau melihat berita pasien yang terpaksa pulang atau “dipaksa” pulang karena tidak mampu membayar biaya RS, hiksss.

Dan untuk perawatan saya selama proses melahirkan, mendapatkan tanggungan BPJS ( sekitar sepertiga dari total biaya perawatan ) dan sisanya ( dua pertiga nya harus saya bayar ) kalau dari analisa sotoy saya kemungkinan selisih biaya ini karena saya naik kelas, saya tidak banyak bertanya tetang hal ini, karena saya sudah mengerti konsekuensi keputusan saya untuk naik kelas ).

Sejujurnya saya kecewa, karena perbedaan informasi antara Call Center dengan Petugas di Kantor BPJS Kesehatan Gianyar, yang mengakibatkan anak-anak saya tidak mendapatkan tanggungan dari BPJS pada saat mereka dirawat di NICU. Semoga ke depan pelayan BPJS menjadi lebih baik lagi.

Salam 🙂

 

0

Suka Duka Memanfaatkan BPJS ( Bagian I )

Sebenarnya postingan ini mau saya publish bulan Maret, tapi karena kesibukan yang ngga jelas, saya baru bisa publish sekarang. Tapi ngga apa-apa kan?? Ngga basi kok ceritanya.

Bulan Maret mengingatkan saya banyak hal, salah satunya adalah pengalaman pertama saya memanfaatkan fasilitas BPJS. Sebelum melahirkan, saya sempat dirawat satu malam di RS. Karena kondisi bayi saya yang perlu diobservasi, udah saya ceritain di sini. Pertama kali ke RS saya masuk lewat UGD, karena saya membawa surat rujukan dari dokter spesialis kandungan yang menangani saya. Pada saat pendaftaran, saya tanyakan apakah untuk proses melahirkan nanti saya perlu membawa rujukan dari Faskes Tk I ( Puskesmas ) ? Petugasnya menjawab, kalau emergency tidak perlu, tetapi kalau tidak emergency sebaiknya membawa surat rujukan dari Puskesmas.

Karena hamil kembar beresiko bayi lahir prematur, dan bermacam resiko lainnya ( because twin pregnancy is high risk pregnancy ) sejak awal saya sudah mencari informasi tentang  RS yang menyediakan NICU, tentang tanggungan BPJS untuk ibu dan bayinya de el el. Banyak kalau harus cerita di sini semua.

Pengalaman pertama masuk sebagai pasien BPJS, saya sebenarnya mendapat fasilitas kelas dua sesuai dengan golongan ( maklum abdi negara newbie ) tetapi karena kondisi pasien RS yang sedang membludak karena pada saat itu di Bali sedang mewabah Demam Berdarah Dengue. Suami memutuskan pilih kamar VIP C ( naik kelas dari kelas II, kelas I, ke VIP C, dua tingkat nih ). Dalam hati saya udah menerka nerka, ntar nambah deh nih, naiknya dua tingkat fasilitas kamar pasti diikuti obat dll nya. Semalam di RS, bisa dibilang dari segi fasilitas nyaman sekali, dan pssssstt pas giliran sarapan saya minta nambah 1 porsi loh, abisnya laper sih, hahaha.

Agak siang, sekitar jam 1 dokter yang menangani saya datang untuk melihat kondisi saya dan kehamilan saya. Ternyata hasilnya baik-baik saja dan saya dibolehkan untuk pulang.  Abis diperiksa dokter di rungan VK ( saya ngga tau istilah ini artinya apa, yang pasti ini ruangan untuk melahirkan ), saya dibawa kemabli ke kamar rawat dan suami disuruh untuk menyelesaikan administrasi. Sambil nunggu suami ke bagian administrasi, saya mandi ( mumpung ada shower air panas di dalam ruang rawat ). Abis mandi suami saya datang dan bawa kabar kalau tadi di bagian administrasi disuruh tandatangan kwitansi, terus saya kan pasti tanya, nambah berapa? Dan suami saya jawab GRATIS ( Aahhhhh senangnya, rejeki si kembar deh ini )

 

2

Waktu itu 8 Maret 2016

Sudah setahun yang lalu ( tepatnya 8 Maret 2016 ), saya pulang dari RS setelah dirawat satu malam di RS. Untuk pertama kalinya saya merasakan namanya nginep di RS sebagai pasien, rasanya GA ENAK!. Tapi apa daya demi anak-anak ganteng di dalam perut ( waktu itu ) harus saya ikutin saran dokter.

Kenapa saya harus nginep di RS?

Karena waktu saya cek kehamilan ke dokter tanggal 7 Maret 2016, dokter bilang kalau salah satu bayi saya ( Rama ) perlu dilakukan pengawasan karena detak jantungnya tidak wajar. Akhirnya saya pun disuruh ke ruangan lain untuk diperiksa bidan dengan alat untuk mengecek detak jantung bayi ( kalau saya ngga salah namanya NST deh ). Tau ga ?? Waktu keluar dari ruang dokter menuju ke ruangan bidan saya sempet bilang gini ke suami “Pi, mereka kan main berdua ya pi? Ga apa-apa kan ya pi? ” Sambil keluar air mata, berusaha menghibur diri padahal hikssss. Proses pemeriksaan dengan NST itu kurang lebih begini, alatnya ditempel ke perut, posisi di mana kira-kira detak jantung bayi terdeteksi, lalu di ujungnya ada sejenis pias/kertas untuk mencatat angka-angka yang muncul, jadi kertas itu berisi gambar grafik naik turun. Masing-masing bayi diobservasi sekitar 15 menit, jadi total sekitar 30 menitan. Nah pas Rama yg diperiksa, saya minta agak miring, karena udah capek posisi tiduran ga boleh gerak begitu, tapi kata bidannya, sebaiknya jangan bu. Jadilah 15 menit terakhir itu saya merasa agak pengap. Saya lirik-lirik grafik di kertas, entah apa artinya.

Keluar dari ruangan bidan, balik lagi ke dokter menyerahkan hasil grafik NST. Dan menurut diagnosa dokter, bayi yang lebih kecil ( Rama ) mengalami kesulitan bernafas karena posisinya terdesak bayi yang lebih besar ( Krishna ), perlu diobservasi, jadi saya harus dirawat dan diperiksa denyut jantung bayi setiap 2 jam sekali sampai dengan keesokan harinya. Kalau  kondisinya masih sama, kedua bayi TERPAKSA DILAHIRKAN. Denger kata-kata dokter, saya bingung, blank, hanya bisa berdoa dalam hati. All is well.

Malam itu sebelum ke RS, kami sempetin dulu buat pulang. Ambil semua perlengkapan bayi yg sudah saya siapin ( sudah dicuci, tapi belum dimasukkan ke tas ), baju-baju saya dan suami. Terus kami makan malam dulu beli nasi goreng di tukang nasgor langganan( masih berusaha tenang, tapi sebenarnya tidak ). Nelponin orang tua kami, dan sempet juga pinjem selimut ke rumah bibi, karena lupa bawa. Sampai di RS sekitar jam 10 malam, saya langsung diperiksa NST lagi, sekitar jam 12 malam masuk ruang rawat, dan setiap 2 jam datang bidan membawa alat cek detak jantung lagi. Dalam hati saya selalu berdoa dan bilang ke anak-anak, saya pasrah, tapi kalau boleh memilih tunggu dulu kalian main di dalam perut aja dulu. Tepatnya tanggal 8 Maret 2016 siang, sekitar jam 1 siang, dokter saya baru visit dan ditunjukin hasil pemeriksaannya. And surprisely, dokter bilang, BAIK-BAIK aja kok, ibu bisa pulang, ga jadi kita NYEPI di sini, AYEEEEEYYYY….. Yuk anak-anak kita pulang.

Saya masih inget pulang dari rumah sakit tanggal 8 Maret 2016 sore hari, jalanan udah ramai dengan ogoh-ogoh, karena hari itu Pengerupukan Nyepi ( sehari sebelum hari raya Nyepi ).  Saya pulang dengan perasaan bahagia, tetapi rasa was-was masih tetap ada, karena dua bayi-bayi ganteng di dalam perut ini sedang mengalami TTTS ( Twin to Twin Transfussion Syndrome ). Nanti saya ceritain deh lebih lengkap tentang TTTS ini

# disclaimer

semua cerita saya di thread ini berdasarkan pengalaman pribadi, saya bukan tenaga kesehatan, jadi istilah-istilah kodekteran yang saya pakai sebatas ingatan saya atas apa yang disampaikan dokter kepada saya

0

My ideas

Orang dengan banyak ide di kepala tapi hampir sering bingung sendiri untuk menjalankan ide itulah saya. Di kepala saya sangat banyak ide berkeliaran, ide tentang bisnis, ide tentang memasak, ide tentang pekerjaan, de el el. Saya ceritain satu persatu deh.

Ide bisnis.

Saya punya beberapa ide-ide bisnis yang bisa sewaktu-waktu berubah tidak menentu. Berubah mengikuti apa yang saya sedang alami dan saya lihat. Contohnya saja nih, saya bisa punya ide jualan popok bayi saat saya dapat popok mura dengan kualitas bagus, saya juga berniat buka babyshop saat saya sering lihat produk-produk babystuff dengan harga miring di online shop, sementara di toko-toko sekitar saya harganya sudah melambung tinggi ( ide ini masih terbayang-bayang tapi masih terbatas dana ). Saya juga pernah punya ide berjualan kue ( ini agak absurd, karena saya ga pernah bikin kue kecuali pisang goreng , hahaha ). Bahkan saya pernah berniat buka jasa titip jual di IG, setelah melihat ketenaran sebuah akun titip jual babystuff di IG, yang antreannya alamakkkk.\

Ide memasak.

Ini kayanya penyebabnya karena saya follow akun IG tentang masak dan baking. Saya pengen banget bisa baking. Tapi sampai sekarang belum kesampaian, yang pertama saya mau nyoba bikin brownies kukus. Entah kapan ide ini akan terlaksana. Baking itu kan perlu waktu luang, ga bisa di tengah jalan adonan kue ditinggal gara-gara si kembar nangis. Jadi kayanya ide ini disimpan dulu. Tapi saya heran loh, ada ibu kembar lain di luar sana, yang pinter masak, pinter baking dan sempat banget masak+baking, sambil ngasuh anak, dan sambil jualan makanan juga. Menurut saya ini amazing, wonder woman. Tapi apalah saya yang kalau capek dikit sudah pusing kepala, muntah-muntah dan berakhir dengan terkapar di kasur tak berdaya ( maafkan mamak mu ini nak, ga se setrong ibu-ibu di luaran sana ).

Ide tentang pekerjaan.

Dalam hal pekerjaan sebenarnya saya orangnya ngikut arus banget deh, ga neko-neko. Aslinya sih pengen cari selamat aja, datang, kerja, pulang. Sampai rumah ga usah mikirin kantor lagi. Tapi di kantor tetep mikirin rumah, hahaha. Jadi dalam hal pekerjaan, saya punya ide untuk menulis, meneliti hal-hal sederhana terkait pekerjaan saya, untuk mendapatkan nilai, biar cepet naik pangkat gitulah intinya. Tapi lagi-lagi ide ini susah banget actionnya. Karena saat di kantor, saya merasa punya kesempatan untuk me time, jadi berakhirlah jam-jam lowong di kantor dengan makan cemilan, buka socmed, liat diskonan online shop dan  nulis blog ini. Eeeeaaaaaa

Jadi kapan action nya??

Hanya waktu yang bisa menjawabnya

0

Review : Beli pospak di Lazada

Emak – emak keranjingan online shop adalah saya,, hahaha ga apa-apa, ini jujur. Beli pospak si kembar, sejak 2 bulan terakhir saya beli online. Belinya di Lazada. Sebelumnya saya udah review juga belanja pospak di jd.id ada di sini

Review : Belanja di jd.id

Sejak bulan Desember 2016, saya mulai beli pospak dengan merk yang sama ( Pokana Pants ) di Lazada. Mengapa??? Karena beli popok di sini harganya murah dan yang penting gratis ongkos kirim. Sebelumnya saya udah cerita juga tentang kenapa saya ga bisa belanja di jd.id lagi ( hikss sedih kalau diinget-inget ).

Kenapa sih ga beli popok di toko offline aja?

Jawabannya, pertama, harga yang online biasanya lebih murah dengan kualitas yang okeh ( apalagi Pokana ga ada di toko offline di Bali ). Point penting kedua, karena ongkirnya gratis. Jadi kalau belanja di Lazada, dapat gratis ongkir untuk beberapa tujuan pengiriman. Nah kebetulan, alamat kantor saya termasuk yang dapat gratis ongkir. Jadi ngirim popoknya ke kantor deh, bukan ke rumah. Kebayang kan dapat kiriman gede banget, padahal isinya popok, hihihi. Sampai-sampai para satpam yang nerima paket, setiap ketemu saya ngingetin gini ” Bu, ada paket di meja satpam”. Mereka inget banget, ya iyalah paketnya guede Bu. Dan terakhir, kenapa beli online ? Biar ga keseringan ke supermarket, niat awal beli popok, jadi beli yang lain-lain juga,, hihihi ini sih kadang-kadang dilanggar juga, ga beli popok juga tetep ke supermarket untuk alasan beli yang lain atau sekedar jalan-jalan beli cemilan.

Eh ini post kan judulnya review, kok ngalur ngidul. Yuk cerita tentang pembelian di Lazada. Sebenarnya belanja di Lazada ini gampang banget. Cuma perlu daftar, isi deh tuh semuanya dengan lengkap ( alamat pengiriman yang penting nih ). Lalu belanja dan bayar. Metode pembayaran juga banyak banget, kalau saya ya milihnya transfer ATM. Terus nanti setelah membayar, dapat notifikasi melalui sms dan email bahwa pemesanan kita sudah dikonfirmasi maupun sudah dikirimkan. Tunggu deh paketnya sampai. Sejauh ini  pengiriman juga oke. Ga sampai seminggu rombongan pospak dari Lazada sudah mendarat di Bali dengan packing yang aman. Oh iya, tentang packing, waktu pengiriman pertama Lazada pakai kardus karton, pengiriman kedua dibungkus plastik warna oranye nya Lazda. Udah gede, ngejreng lagi, tapi gpp lah. It’s okey, yang penting rapi dan aman. Pokoknya sesuai deh sama taglinenya Lazada #BelanjaItuGakRibet

Happy shoping 🙂