0

Rama, Krishna dan Buku

Kesan pertama saat lihat bukunya

Si kembar dan bukunya.

Mama kembar pengen si kembar suka membaca buku, karena buku adalah jendela ilmu. Bukan begitu? Eh masih berlaku loh pepatah ini walaupun sudah di jaman serba digital.

Maka dimulai lah niat baik dengan membelikan si kembar buku secara bertahap, mungkin untuk hitungan ibu-ibu milenial langkah ini agak telat, karena mama kembar baru beli buku kain sejak si kembar sekitar umur 1.5 tahun. Awalnya mereka belum mengerti itu apa, cuma diliat, kadang ditarik2, kadang digiles sepeda, dan terakhir dibuang dari lantai 2 ke atas dak kamar mandi, ya begitulah, tapi mama ngga khawatir, karena buku ini bisa dicuci, dan tidak mudah rusak. Buku berikutnya adalah buku cerita ngambil dari perpustakaan kecil di rumah kak Doh ( ortu saya ), buku ini agak bisa dimengerti, minimal mereka bisa menyebutkan tokoh – tokoh dalam buku, tapi sayangnya buku ini hardcover tapi tidak dengan dalamnya, lembaran isinya masih kertas seperti majalah, dan berakhir dengan disobek-sobek lagi, yang ini mama agak sedih, karena isi bukunya bagus loh.

Buku selanjutnya adalah dari Rabithole, jujur aja buku ini masih saya simpan dalam loker kantor, saya beli yang berjudul Kado Terbaikku dan Asal Mula Namaku, sebenarnya ini direkomendasikan untuk anak umur 3 – 7 tahun, tapi sampai saat ini belum saya kasi. Kenapa? Karena pernah sekali waktu saya tunjukan, dan salah satu halaman yang berisi pop-up (yg bisa ditarik keluar kunang-kunang), langsung lepas donk. Apa jadinya kalau ini juga dikasi, mungkin mereka pretelin satu persatu pop upnya. Ada beruang 3D, ada sejenis kotak kado juga kalau ngga salah, ya pokoknya sejenis popup 3D itulah.

Buku berikutnya adalah buku hasil inceran di jastip (jasa titip BBW) tau kan event BBW ( Big Bad Wolf) yang ngegemesin itu? Nah saya ikut titip beli di salah satu jastip, tau via IG namanya @autytika nah di event ini saya titip 4 buku, nih saya tunjukin di bawah ini

Seperti foto paling atas di tulisan ini, pada awalnya saat mereka tau kalau punya buku baru mereka excited banget, penasaran dengan isi bukunya, nanya ini apa, itu apa begitu seterusnya sekitar 3 harian. Tapi hari-hari berikutnya mulai deh ada yang aneh, tiba-tiba pas saya buka, buku Hello Arlo ( The Good Dinosaur) udah hilang Tab Arlo nya donk ūüė¶ saya ga tau siapa “pelaku”nya, selidik punya selidik, ternyata Krishna yang merobeknya, karena dia mau ngerobek lagi halaman lainnya saat di depan saya. Tapi pas saya tanya “Krishna yang robek bukunya?”. Krishna menjawab ” Rama yang robek” hufffftttt anak-anak ini (mulai kesel tapi gemes).

Hari – hari berikutnya yang robek bukan cuma tab bukunya, tapi ada sobekan besar di buku Hello Arlo lagi, jadi kaya dilepas stikernya hampir satu halaman gitu, padahal ini semua hardbook loh. Dan terakhir, buku ROAR yang disobek. Buku ROAR ini adalah buku Augmented Reality, buku yang kalau discan pakai HP dengan memanfaatkan Aplikasi Android bernama Magic Hippo maka akan muncul animasi per halamannya, bagus sih dari segi gambar dan cerita menarik, awalnya Rama tertarik dengan Augmented Reality nya itu, tapi setelah kejadian ini 2 buku yang menjadi “korban” yang selamatkan ke lemari. Sisa buku Dory dan London itu. Dan yang terjadi berikutnya adalah buku London juga menjadi korban disobek bagian punggung bukunya. Yang masih sehat sempurna hanya buku Dorry saja, padahal belum ada sebulan umur buku ini di rumah kami. Huftttt anak-anakku ūüė¶

Buku ROAR
Buku Hello Arlo
Buku London

(semoga buku-buku berikutnya nasibnya tidak seburuk pendahulunya). Udah itu aja.

Salam dari Rama Krishna yang baru saja berulangtahun ke 3.

Iklan
0

Cobain Aplikasi Pegadaian Digital Service Ngga Perlu ke Outlet Pegadaian

Udah lama ngga posting di blog. Eh tau ga sih bulan November kemarin viewers blog rumahnomortujuh melonjak tajam loh (info ngga penting) kalau diliat dari kata pencariannya sih kayaknya karena pada penasaran dengan produk royal vkb, hihihi. Ya udah ga usah dibahas panjang lebar.

Mama kembar mau cerita-cerita tentang keuangan nih. Semua udah tau Pegadaian kan? Kalau nyebut pegadaian apa yang ada di benak sodara-sodara? Sebagian besar bakal jawab gadai perhiasan emas, dapat uang pinjaman. Padahal di jaman milenial ini Pegadaian sudah sangat berkembang dan berinovasi loh. Mama kembar posting ini bukan karena dibayar atau bukan karena kerja di Pegadaian. Tapi hanya berbagi hal-hal yang sekiranya bermanfaat dan informatif buat yang lagi baca-baca atau cari info.

Awalnya tertarik cobain aplikasi Pegadaian Digital Service (sebut saja PDS) karena liat di akun Instagramnya @sahabatpegadaian tentang tabungan emas yang bisa dibeli lewat PDS ini, tinggal transfer kalau mau nabung. Mulai deh mama kembar cobain download dulu di Android Play Store. Nah step berikutnya adalah daftar-daftar kalau mau nabung emas, siapkan KTP yah, karena nanti akan diminta upload foto KTP. Caranya mudah tinggal ikuti saja step by step nya, pilih kantor cabang untuk pengambilan buku tabungan fisiknya. Untuk pertama kali akan dikenakan biaya Rp 100.000 sudah termasuk tabungan emas sebesar Rp 70.000 sisanya biaya admin. Tapi untuk yang bayar via transfer kena biaya admin bank Rp 2.500. Jadi total bayar pertama Rp 102.500. Kalau udah transfer, udah deh, kita tinggal ngecek saldo emas yang sudah kita beli, jika sudah berhasil maka akan muncul saldo emas seperti pada gambar berikut ini.

Tampilan depan aplikasi PDS

Berikutnya kalau ada rejeki lebih pengen nabung emas lagi, tinggal klik tuh tumpukan emas di kiri atas, beli deh bayar pakai transfer. Mudah bukan??? ga usah ke outlet pegadaian, ga usah ke toko emas, tapi punya tabungan emas dalam genggaman. Oh iya kalau mau ambil buku tabungan emasnya juga mudah, tinggal tunjukan aplikasi PDS kita di handphone ke petugas di outlet Pegadaian yang sudah kita pilih sebelumnya, maksimal 6 bulan sejak pembukaan rekening tabungan emas.

Tuh di gambar ada banyak fitur kan, tapi mama kembar baru coba tabugan emas, yang lain belum dicoba, jadi belum bisa kasi reviewnya. Semoga bermanfaat bagi semuanyaaaah.

Yuk mulai investasi emas di tempat yang terpercaya? Pilih Pegadaian aja ya….

0

Wadah bekal Royal VKB dari Alfamart

Sudah bawa bekal hari ini ?

Saya belum, huahaha, karena tadi pagi ngga sempat nyiapin bekal ( alasan wkwkwk)

Kalau bawa bekal ke tempat kerja ataupun pas maen outdoor sama anak-anak, saya selalu masukin ke wadah-wadah makanan seperti Tupperware, ataupun wada-wadah plastik bekas ice cream itu. Kenapa? Karena dengan membawa wadah makan sendiri, itu artinya kita sudah menghemat penggunaan plastik sekali pakai. Iye kan??? Setuju bapak-bapak ibu-ibu sekalian???

Nah ngomongin soal wadah bekal, sekarang lagi ada promo dari Alfamart. Sperti biasa jiwa diskonan kembali bergelora kalau udah liat promo beginian. Saya mulai kumpulin lagi stamp digitalnya Alfamart, mulai rajin ke Alfamart dan taraaaaa 20 stamp terkumpul selama kurang lebih sebulan. Asyeeeekkk

Tadi sambil membeli makan siang, saya sempatkan untuk menukarkan stamp Alfamart yang sudah saya kumpulkan. Dengan hadiah yang seharga Rp 9.900 + 20 stamp digital. Ga mau kelewatan lagi, ga mau kehabisan lagi. Lumayan loh hadiahnya dua buah kotak buah ukuran kecil dari Royal VKB. Tadi sekilas saya buka plastiknya, saya cek karena penasaran. Wadah ini tutupnya ga gampang lepas, karena ada pengaman karetnya di bagian pinggiran tutup, jadi seket pas dibuka tutup (deskripsi macam ini :D). Yang penasaran, segera ke Alfamart, belanja, kumpulkan stampnya, dan kalau stampnya sudah cukup, silahkan ditukar dengan hadiah yang anda inginkan. Hadiah yang tadi saya tukarkan adalah ini

WhatsApp Image 2018-09-08 at 2.33.16 PM

Ini hasil penukaran 20 stamp + Rp 9.900

Screenshot_2018-08-07_211227

Ini koleksi lengkapnya ( Sumber  Foto : bangunkelir.blogspot.com)

Masih ada banyak hadiah lainnya yang menunggu di Alfamart. Jadi tunggu apa lagi, yuk belanja.

 

0

Curahan Hati Penjual Garam Laut

Halooooo,,,

Mau cerita agak serius nih,,, tentang  sebuah bisnis yang baru saja saya mulai.

Bisnis garam laut.

Yaaaa, mama kembar baru mulai serius berjualan garam laut, kayanya saya sudah pernah sedikit cerita tentang bisnis ini. Tapi, saat saya lagi gencar-gencarnya nawarin ke sana kemari, ada kendala yang cukup bikin semangat ini mulai redup ( tapi ngga padam lohhh). Kalau kata Tulus di lagu Manusia Kuat ” Kau bisa patahkan kakiku, tapi tidak mimpi-mimpiku ….. ” eh kok jadi nyanyi ya?

Biar ga terlanjur nyanyi, saya terusin aja curhatnya, jadi setelah menawarkan ke beberapa toko, sebagian besar dari mereka nanya, apakah produk garam laut ini sudah ada ijin PIRT ( PIRT adalah ijin Pangan Industri Rumah Tangga). Bahkan, salah satu pemilik toko mengatakan pada saya, tidak susah kok untuk mengurusnya. Oke saya terima saran mereka, dan mulai bertanya cara mengurus ijin ini ke Dinas Kesehatan tempat saya tinggal.

Dan pada suatu pagi yang udah mulai agak siang, saya datang ke Dinas Kesehatan, ditunjukkan ke sebuah meja di pojokan di mana ada seorang ibu yang sedang makan / sarapan di meja kerjanya ( hufffffttt ). Saya hampiri ibu itu, sambil menyatakan maksud kedatangan saya untuk mengurus ijin PIRT untuk produk garam laut. Apa penjelasan yang saya dapat ?? Tau kah saudara saudari di sana?? Pasti ngga tau deh, ya iyalah kan ga bareng di sana waktu itu. Jadi kurang lebih begini jawabannya :

” Kalau produk garam termasuk barang bebas ( saya kurang mengerti maksudnya “barang bebas”), jadi ijinnya sudah tidak lagi melalui Dinas Kesehatan. Ibu harus punya ijin Badan POM, dan untuk garam wajib SNI. Artinya garam ibu wajib mengandung Iodium. Karena Iodium adalah syarat wajib untuk produk garam pangan.”

Dengan penjelasan itu, akhirnya saya mengerti mengapa selama ini garam laut dari Bali yang dikenal hingga ke manca negara dengan rasa khas dan kealamian bahannya, tidak pernah saya temui di toko-toko retail. YA TERKENDALA IJIN EDAR !!!!!

Mengapa pemerintah belum memberikan “kelonggaran” bagi petani garam tradisional. Jika kami ( petani dan penjual garam laut ) ingin memasarkan garam murni tanpa tambahan apapun, seharusnya pemerintah memberikan opsi. Bukan kaku pada sebuah aturan Iodisasi. Bukankah pembeli bebas memilih antara garam beriodium atau garam laut asli yang melalui proses alami dan tanpa banyak proses pengolahan. Sebagian masyarakat mulai menyadari bahwa ternyata garam beriodium yang beredar di pasaran saat ini sudah ditambahkan bahan kimia tertentu agar tidak mudah menggumpal dan terlihat lebih putih yang justru membuat “garam sehat”menjadi tidak sehat untuk dikonsumsi. Sehingga mereka mulai beralih mencari garam alami yang lebih sedikit proses pengolahannya dan lebih sedikit campuran bahan kimianya, mereka mulai¬† melirik garam laut¬† dan garam Himalaya ( yang ini pastinya garam impor ).

Dari beberapa artikel yang saya baca, usaha untuk memperjuangkan hal ini sudah dilakukan oleh petani garam di Buleleng, tetapi saya belum melihat apakah sudah ada aturan lain yang bisa meloloskan produk tradisional warisan leluhur ini. Kita tunggu saja kabar baik dari pemerintah.

 

Curhatan ini inspired by : Pak Wayan dan keluarganya di sebuah pantai berpasir hitam di Kusamba.

0

Road to Menyapih Si Kembar

Rama dan Krishna sudah berusia lebih dari 2 tahun, itu artinya sudah waktunya berhenti “nenen”. Perjalanan menyusui anak-anak dimulai dari ruang NICU yang penuh haru biru ( aissspehhh), dan saya ingin segera mengakhirinya dengan cinta, kalau kata ibu-ibu milenial adalah Weaning With Love. Saya ingin mengawalinya dengan cinta dan mengakhiri dengan cinta pula.

Tapiiiiiiiiiiii

Kenyataannya adalah si kembar masih nyusu di usia 2 tahun 3 bulan, sudah lewat 3 bulan dari yang semestinya, dan belum ada tanda-tanda mereka mau lepas dari nenen. Mama kembar ( mama!!! tanpa huruf K kata papa kembar) sudah menerapkan cara “sounding” yaitu ngasi tau dengan kata-kata jauh-jauh hari sebelum waktunya menyapih, tapi suka bolong-bolong ga tiap hari juga. Mama kembar sudah pernah coba cara lain dengan mengatakan kalau nenen ada eek nya ( sudah mulai bukan weaning with love), terlihat agak berhasil sama Krishna, tapi tidak dengan Rama, dia biasanya suka cuek, mau dibilang ada eek atau ngga, dia cuek, kalau mau nenen ya dia nyusruk aja. Jadi kalau Rama sudah nenen, dapat dipastikan Krishna pun ga percaya kalau itu ada eeknya, bubarlah sudah jurus “nenen ada eek”.

Orang tua dan orang-orang terdekat sudah mulai menyarankan untuk mengoleskan pahit-pahitan semisal brotowali, pare dll, tapi belum pernah saya coba, kok saya takut malah jadi ga nafsu makan ya anaknya. Dan saya juga belum siap dengan drama malam hari, saat mereka kecewa dengan nenen nya yang tidak seenak dahulu.

Saran berikutnya dari teman kantor, adalah berpisah sementara waktu dari anak-anak. Maksudnya saya menitipkan anak-anak dengan nenek dan kakeknya dan tidak bertemu selama jangka waktu tertentu. Ini agak berat bagi saya, karena hanya ada 2 pilihan, orang tua saya dan mertua  saya. Kalau orang tua saya, tidak memungkinkan karena mama saya harus bekerja kantoran juga. Kalau titip ke mertua, ngga mungkin juga, karena jauh dan ngasuh dua itu tidak mudah lohhhh. Lalu???

Jadi intinya saya belum siap lahir dan bathin untuk menyapih. Kalaupun saya sudah siap, saya juga tidak mau sendirian, setidaknya perlu bantuan suami untuk menghandle anak-anak saat mereka “sakau” pengen nenen.

Semoga berhasil. Semangat Mama Kembar dan semua ibu-ibu di luar sana yang sedang berusaha untuk mengakhiri masa indah ini dengan cinta !!!!

0

Saya, Seorang Wanita Bali

Selamat Hari Kartini untuk seluruh wanita Indonesia. Seluruh wanita yang merasa menjadi orang Indonesia dan cinta Indonesia. Hari ini tepat tanggal 21 April, ulang tahun Bagas, yeayyyy,, hahaha ngga nyambung tidak apa-apa, setidaknya karena Hari Kartini inilah saya tidak akan pernah lupa ulang tahun adik bungsu saya yang ganteng.

Beberapa bulan ini gatel banget pengen nulis tentang perempuan Bali. Kenapa? Karena saya merasa ada yang unik dengan perempuan Bali. Bukan semata-mata karena saya termasuk di dalamnya. Tetapi berdasarkan pengamatan saya, ada sesuatu yang berbeda dengan perempuan Bali.

Pas tadi pagi lewat di meja satpam kantor, keliatan ada sebuah koran Bali Post dengan headline yang mencolok mata, liat deh gambar ini

perempuan bali

Tuh kan bener kan apa kata saya, jadi kurang lebih menurut berita di koran tersebut, tingkat pengangguran perempuan di Bali paling rendah dibandingkan daerah lainnya di Indonesia, dan tingkat penggangguran perempuan di Bali juga lebih rendah daripada laki-laki di Bali. Berita ini disertai dengan data-data valid dan bersumber dari Badan Pusat Statistik lohhh. Pertanyaannya Kenapa? Apakah wanita Bali dituntut untuk bekerja dan berpenghasilan?

Ini jawaban saya. Isi tulisan ini murni opini saya pribadi, jika ada yang mau menambahkan saya persilakan, jika ada yang kurang setuju, tulis saja di komentar semua bebas berpendapat selama masih sopan dan tidak menyinggung SARA.

Mengapa perempuan Bali itu hebat?

Karena banyak hal, pertama perempuan Bali itu multi tasking, sebagian besar perempuan adalah kaum yang multi tasking, bisa melakukan banyak pekerjaan di saat bersamaan, mungkin itu sudah menjadi kelebihan tersendiri bagi perempuan. Dalam hal ini, yang saya sebut dengan istilah multi tasking adalah perempuan Bali yang bisa berperan dalam keluarga ( sebagai ibu, istri atau bahkan nenek), berperan dalam pekerjaan ( baik yang menjadi pekerja kantoran, wira usaha, ataupun pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah tetapi masih menunjang ekonomi keluarga) dan satu lagi yang tidak dimiliki oleh perempuan-perempuan lainnya di Indonesia, perempuan Bali berperan penting dalam urusan agama dan adat, sebagian besar urusan agama dan adat Hindu Bali dilakoni oleh kaum perempuan, jika ada persiapan suatu upacara, silahkan dibandingkan porsi waktu dan tenaga antara perempuan dan laki-laki. Ibu-ibu atau kaum perempuan warga banjar “ngayah” hampir setiap hari untuk menyambut suatu upacara di pura, sedangkan kaum laki-laki hanya datang saat-saat tertentu saja, setidaknya begitulah yang saya lihat sehari-hari di desa tempat tinggal saya.

Kedua, jadi perempuan Bali harus pintar menyesuaikan diri dengan lingkungan minimal lingkungan rumah, karena saat seorang perempuan Bali menikah dan tinggal di rumah suaminya, tidak jarang mereka harus tinggal di rumah mertua, dan sampai dengan saat ini masih banyak rumah di Bali yang dihuni oleh lebih dari satu kepala keluarga dalam satu halaman rumah. Jadi dalam satu halaman, ada beberapa rumah yang dihuni oleh beberapa kepala keluarga, di sana ada mertua, ada ipar, ada sepupu suami, ada kakek nenek suami, ada paman bibi suami dan¬† famili lain, semakin banyak anggota keluarga, semakin rame lah rumah itu. Dalam situasi begini, seorang istri yang notabene adalah “orang baru”, harus menyesuaikan diri dengan kondisi di keluarga tersebut. Sangat banyak terjadi, saat masuk ke rumah suami, ada ketidakcocokan dengan kondisi di rumah tersebut, yang membuat mereka tidak nyaman tinggal di dalam rumah, atau bahkan mencari jalan untuk segera keluar, baik dengan jalan mencari tempat kos, kontrakan atau tinggal di rumah sendiri bagi yang punya tanah sendiri. Kalau sudah begini, no comment deh, semua kembali ke rumah tangga masing-masing saya tidak berhak menilai, saya hanya menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi dengan perempuan Bali.

Ketiga, perempuan Bali perempuan yang super sibuk, kembali ke poin 1, karena begitu banyak peran yang harus dilakukan, sehingga setiap harinya, kegiatan seorang Ibu khususnya dimulai dari mengurus keluarga ( suami dan anak-anak), dilanjutkan dengan pergi bekerja (jika tidak bekerja di rumah), pulang kerja dilanjutkan dengan mengerjakan pekerjaan adat dan agama ( setidaknya membuat “banten” persembahan untuk sehari-hari), ini belum termasuk saat ada upacara tertentu di Banjar atau di rumah, harus menyempatkan diri untuk bersosialisasi dalam hal adat dan agama di waktu liburnya yang seharusnya bisa dialokasikan untuk “Me Time”.

Keempat, perempuan Bali ingin selalu memiliki penghasilan untuk membantu ekonomi keluarga, kenapa saya berpendapat seperti ini? Karena saat waktu senggang, perempuan Bali juga tidak bisa diam, ada saja yang dikerjakan, syukur-syukur kalau hasil “kerajinan tangannya” (biasanya berupa sarana upacara) bisa dijual untuk membantu ekonomi keluarga, tetapi kalaupun tidak, setidaknya barang-barang yang mereka hasilkan tersebut pasti bermanfaat sehingga tidak usah membeli saat dibutuhkan, jadi lebih hemat kan???

Mungkin segitu saja cukup dulu yah, kalau ada yang kurang bisa ditambahkan sendiri, terlalu banyak yang harus saya ceritakan. Ohhh iya ini sudut pandang saya tentang sebagian besar wanita Bali, tetapi tidak jarang kok sekarang ini wanita Bali yang sudah jadi perempuan jaman now, yang aktif di medsos dengan foto-foto “ngayah”nya, atau sekedar nongkrong cantik di St*rbuck sambil selfie lalu diupload di medsos, menjadi model karena maraknya dunia per-Instagram-an, atau menjadi pembicara di forum-forum penting,,,, tetapi tidak lupa satu pesan saya kalau ke Pura tetap nyuun keben yah jangan malu.

KARENAAAAA

Kita bisa, kita perempuan HEBAT !!!!

Salam dari Mamak Kembar ūüôā

0

Wajar kalau berantakan

Yuk ngetik blog lagihhhh. Udah jalan bahasan yang ketiga di #modyarhood nya Mamamo dan Byputy , baru bisa ikutan sekarang, gpp kali yah, yang penting kan bisa berpartisipasi dan bisa curhat juga. Kali ini bahasannya tentang pembagian tugas domestik, seru nih, pengen banget cerita, tanpa bermaksud membanding-bandingkan, kondisi keluarga saya sedikit “berbeda” dengan yang lain. Saat ini suami saya tidak bekerja, jadi suami saya full di rumah menjadi Stay At Home Dad (keputusan ini sudah kami sepakati bersama setelah tau kalau saya hamil), sementara saya bekerja kantoran, ya walaupun kerjanya sistem shift bukan 9 to 5. Di rumah kami hanya tinggal berempat (papa, mama, Rama dan Krishna ) tanpa orang tua, mertua, ataupun ART.

Saya

  • Kalau lagi kerja. tugas saya adalah menyiapkan makan untuk suami dan anak-anak, untuk suami biasa hanya saya sediakan lauk untuk sarapan, yang simpel tapi dia suka adalah telor dan olahannya. Untuk anak-anak sekitaran ayam dan telor juga sih, hehehe. Untuk makan siang dst dia masak sendiri sebisanya.
  • Kalau lagi libur. Saya mengerjakan hampir semua pekerjaan domestik, seperti masak, cuci piring, cuci dan jemur pakaian, bersih-bersih dll. Jadi kaya semacam dirapel gitu loh, di sini kadang saya merasa lelah. Harusnya libur bisa agak nyantai, ini masih harus ngerjain urusan domestik plus diserahin anak-anak plusnya lagi ngurus bayi besar yang udah kangen karena ditinggal kerja seharian. Tapi kadang suami juga bantu semisal nyapu halaman, mandiin anak-anak dll seikhlasnya dia, karena anggapannya dia, kalau saya libur, jadi dia libur juga dari tugas ngasuh anak-anak. Dan, suami saya cenederung lebih suka saya tidur-tiduran santai aja gitu di kamar, daripada saya sibuk di dapur atau nyapu-nyapu, efek kangen juga kali ya karena udah ditinggal kerja seharian, hihihi. Cuma masalahnya ada di saya, yang ga tahan liat kotor, raga di kasur, pikiran di dapur dan mesin cuci, begitulah yang sering terjadi.

Suami

  • Kalau saya kerja, tugas suami adalah jagain anak-anak FULL TIME, dua anak laki-laki yang lucu-lucu dan sangat aktif dijagain seorang bapak, ya begitulah. silahkan bayangkan sendiri, selama saya bekerja suami tidak wajib mengerjakan tugas rumah tangga, tugasnya hanya menjaga anak-anak.
  • Kalau saya lagi libur, suami saya juga libur menjaga anak-anak, tapi ngga libur-libur banget sih, kalau saya perlu bantuan ya saya pasti ngomong, misalnya mau ninggalin masak, mau ninggalin jemur, suami lah yang mengambil alih tugas jaga anak sementara waktu. Kalau misalnya dia pengen sekedar ngobrol-ngobrol sama bapak-bapak tetangga ya silahkan. Saya bebas selama ga lupa waktu aja.

Jangan tanya kondisi rumah seperti apa, seperti pasar kaget pas musim lebaran. Berantakan, apalagi kalau kondisinya anak-anak lagi sakit, kerjaan rumah otomatis saya abaikan untuk jagain anak-anak, sementara cucian menumpuk karena beberapa kali anak-anak m*ntah, cucian bekas e*k, kena obat dll. Tiap saya mengeluh ke suami karena kondisi rumah yang ga pernah bersih dan rapi, suami selalu bilang : ” Ga apa-apa kan kita punya anak-anak kecil, wajar kalau berantakan” dan selalu saya jawab dengan omelan karena ke”perfeksionis”an saya tentang kebersihan, hyahahahaha. . . .

Ini cerita rumah kecil kami, bagaimana di sana??? Yuk ikutan cerita di blog masing-masing.